Banyak pasien COVID-19 Surabaya meninggal disertai penyakit penyerta

Banyak pasien COVID-19 Surabaya meninggal disertai penyakit penyerta

Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya Febria Rachmanita. ANTARA/HO-Humas Pemkot Surabaya

Surabaya (ANTARA) - Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Surabaya menyebut banyak pasien virus corona yang meninggal di Ibu Kota Provinsi Jawa Timur itu disertai penyakit penyerta atau komorbid.

Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya Febria Rachmanita di Surabaya Rabu mengatakan Dinas Kesehatan Surabaya mencatat data kumulatif hingga 15 Juni 2020 jumlah pasien terkonfirmasi COVID-19 meninggal dunia sebanyak 328 orang.

Baca juga: Pasien sembuh COVID-19 bertambah 563 orang, meninggal 43 orang

"Dari jumlah tersebut, sebanyak 300 orang meninggal disertai dengan komorbid dan 28 orang murni COVID-19," katanya.

Menurut dia, penyakit penyerta yang tertinggi itu diabetes mellitus (DM), hipertensi, komplikasi DM dan hipertensi serta penyakit jantung.

Baca juga: Satu pasien positif COVID-19 di Kaltim meninggal

Feny menjelaskan untuk DM tanpa komplikasi di Surabaya terdapat 57 kasus, DM dengan komplikasi ada 62 kasus. Kebanyakan mereka rata-rata telah memasuki usia lanjut.

"Sedangkan persentase pasien positif COVID-19 yang meninggal yakni laki-laki 52,13 persen dan perempuan 55 - 64 persen," ujarnya.

Baca juga: Satu pasien positif COVID-19 di Banyumas meninggal dunia

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya menyarankan agar mereka harus berhati-hati, DM-nya harus terkontrol, hipertensinya harus terkontrol.

"Kalau bisa mereka isolasi di rumah sendiri tidak keluar kalau tidak penting, apalagi yang usianya sudah lansia," kata Kepala Dinas Kesehatan Surabaya ini.

Sementara itu, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD dr Soewandhie Surabaya dr Mulyadi, SpPD mengatakan pasien COVID-19 di Surabaya sebagian besar meninggal disertai dengan komorbid atau penyakit dalam. Komorbid yang tertinggi didominasi penyakit T2DM (Type 2 diabetes mellitus) kemudian hipertensi dan jantung.

"Jadi orang COVID-19 banyak meninggalnya karena pneumonia ARDS (acute respiratory distress syndrome). Nah, peningkatan jumlah pneumonia itu berbarengan dengan jumlah komorbid diabetes," ujarnya.

Ia menyebut data kumulatif hingga 9 Juni 2020 di RSUD dr Soewandhie Surabaya persentase komorbid pada pasien COVID-19 yang dirawat ada sekitar 23 persen disertai dengan T2DM, 17 persen dengan hipertensi dan 8 persen penyakit jantung.

"Jadi orang yang meninggal ataupun yang sakit dengan COVID-19 itu kebanyakan dengan komorbid. Selain diabetes, ada darah tinggi (hipertensi) dan penyakit jantung," katanya.
Pewarta : Abdul Hakim
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2020