Akademisi UGM: Pandemi COVID-19 pengaruhi perbaikan ekosistem laut

Akademisi UGM: Pandemi COVID-19 pengaruhi perbaikan ekosistem laut

Dokumentasi Wisatawan melakukan snorkeling saat menikmati keindahan bawah laut kawasan pulau Gili Trawangan, Lombok, NTB, Rabu (28/2/2018). Keanekaragaman biota laut dan keindahan terumbu karang di kawasan tiga pulau (Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air) menjadi daya tarik wisatawan lokal mapun wisatawan mancanegara. (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Yogyakarta (ANTARA) - Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Akbar Reza menilai pandemi COVID-19 memiliki dampak positif bagi perbaikan kondisi ekosistem laut di samping dampak negatif yang ditimbulkan bagi kesehatan manusia.

"Pandemi memberi waktu bagi laut untuk beristirahat tapi ini sifatnya jangka pendek," kata Akbar Reza melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, selama pandemi COVID-19 tidak ada lagi keramaian para wisatawan di berbagai objek wisata perairan Tanah Air sehingga sangat berpengaruh positif pada kondisi laut termasuk ekosistem di dalamnya.

Baca juga: Siswa SLTA belajar ekosistem laut melalui Sekolah Pantai Indonesia

"Tekanan dari aktivitas turis jadi sangat berkurang selama pandemi," katanya.

Ia mengatakan tidak adanya aktivitas wisatawan ini juga membawa pengaruh terhadap pengurangan jumlah sampah yang dihasilkan saat berwisata.

Selain itu, lanjut Akbar, tingkat polusi suara atau kebisingan dari kapal-kapal laut yang mengangkut wisatawan maupun pelayaran kapal-kapal besar berkurang.

Kendati begitu, dia menyebutkan pandemi COVID-19 juga membawa dampak buruk di sektor kelautan. Salah satunya mengakibatkan menurunnya pendapatan aktivitas perikanan para nelayan.

"Selama pandemi ini ada kecenderungan peningkatan sampah medis. Banyak sarung tangan dan masker ditemukan di pantai sejumlah negara," kata dia.

Baca juga: Kalsel segera tetapkan kawasan ekosistem esensial

Dampak negatif lainnya adalah terjadi peningkatan penangkapan ikan secara ilegal di beberapa kawasan seperti Natuna dan Raja Ampat.

Meskipun pandemi ini memberikan waktu bagi laut untuk beristirahat, namun Akbar meminta masyarakat untuk tidak melupakan persoalan jangka panjang, di antaranya peningkatan kapasitas sumber daya manusia, isu perubahan iklim, aktivitas perikanan yang tidak berkelanjutan, peningkatan populasi yang berujung pada peningkatan konsumsi, serta pariwisata yang tidak berkelanjutan.

"Setelah pandemi ini apakah kita akan kembali ke kebiasaan yang sebenarnya abnormal?" tuturnya.

Sementara analis akuakultur Wildan Gayuh Zulfikar menambahkan bahwa COVID-19 telah mengizinkan laut untuk regenerasi. Namun di sisi lain memunculkan kekhawatiran pandemi akan memengaruhi aktivitas akuakultur di tanah air.

"Saat wabah mulai meluas, kekhawatiran terbesarnya adalah takut jika tidak bisa ekspor produk akuakultur lagi ke China," kata Wildan.

Baca juga: KKP tindak tegas perusak ekosistem laut di NTB-Sulteng
Baca juga: LIPI lakukan konservasi tuna untuk capai ekosistem laut berkelanjutan
Baca juga: LIPI dorong riset isu pencemaran untuk ekosistem laut berkelanjutan
Pewarta : Luqman Hakim
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020