Gorontalo pakai kearifan lokal untuk normal baru di tengah pandemi

Gorontalo pakai kearifan lokal untuk normal baru di tengah pandemi

Tangkapan layar Gubernur Gorontalo Rusli Habibie dalam konferensi pers di Graha BNPB di Jakarta pada Rabu (24/6/2020) (ANTARA/Prisca Triferna)

Jakarta (ANTARA) - Gubernur Gorontalo Rusli Habibie memakai kearifan lokal seperti 'beleuto' untuk menerapkan protokol kesehatan demi menekan angka infeksi COVID-19 jelang pemberlakuan normal baru (new normal) selama pandemi virus corona di wilayah itu.

Beleuto adalah sarung yang biasa digunakan perempuan untuk menutupi wajah, bisa digunakan sebagai pelindung wajah seperti masker, kata Rusli dalam konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB yang dipantau di Jakarta pada Rabu.

"Orang mengatakan new normal life, kalau saya katakan bukan new normal life tapi kearifan yang dulu kita kembalikan lagi," kata dia.

Dia mendorong agar kearifan lokal tersebut dapat dikembalikan dan disosialisasikan lagi di masyarakat sebagai bentuk protokol kesehatan dan normal baru di tengah pandemi COVID-19.

Rusli mengatakan bahwa Gorontalo siap melakukan normal baru dengan mengakhiri pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada 14 Juni 2020 setelah melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang protokol kesehatan.

Namun, dia menegaskan, normal baru di Gorontalo akan lebih ketat dibandingkan saat PSBB dengan pendatang perlu memiliki surat izin masuk disertai hasil tes cepat atau PCR.

"Masuknya kita perketat karena daerah tetangga kita juga sudah terpapar begitu banyak dan harus memperlihatkan hasil rapid test dan swab," kata dia.

Serupa dengan Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) di DKI Jakarta, izin masuk Gorontalo juga dapat diakses secara daring dan ketika tiba di daerah itu akan diperiksa memakai aplikasi dengan memasukkan nomor induk kependudukan.
Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020