Ekspor rempah melonjak di tengah pandemi global

Ekspor rempah melonjak di tengah pandemi global

Ilustrasi: Komoditi Jahe di Pasar Mandong Kendari dijual dengan harga Rp40.000 hingga Rp50.000 per kg selama Pandemi COVID-19. Padahal sebelumnya harga jahe hanya dijual di bawah Rp10.000 per kg. (foto Antara/Azis Senong)

Jakarta (ANTARA) - Pada masa pandemi COVID-19 ekspor rempah Indonesia meningkat sebesar 19,28 persen dibandingkan periode yang sama yaitu Januari hingga April antara 2019 dan 2020.

Dalam webinar Strategi Diversifikasi dan Adaptasi Produk Rempah-Rempah di masa dan setelah pandemi COVID-19, Kamis diikuti Antara di Jakarta, Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kementerian Perdagangan (Kemendag) Olvy Andrianita menjelaskan ekspor rempah Indonesia sejak Januari hingga April 2020 mencapai 218,69 juta dollar AS.

"Januari-April kalau kami catat ada 218 juta dollar AS," kata Olvy.

Baca juga: Kapulaga, rempah Indonesia yang makin diminati pasar ekspor

Sedangkan, pada periode Januari-April 2020, rempah di mana yang memiliki jumlah ekspor paling banyak adalah lada piper (utuh) dengan nilai 40,88 juta dolar AS atau sekitar 18,7 persen dari total ekspor rempah.

Kemudian, cengkeh (utuh) senilai 37,26 juta dolar AS (17,04 persen), pala (utuh) senilai 26,47 juta dolar AS (12,11 persen), bubuk kayumanis senilai 25,38 juta dolar AS (11,61 persen), ada juga Mace dengan nilai 16,67 juta dolar AS (8,54 persen).

Di samping itu, ekspor vanilla dengan nilai 16,67 juta dolar AS, kayumanis (utuh) dengan nilai 12,97 juta dollar AS, kayumanis lainnya mencapai 11,54 juta dolar AS, kapulaga senilai 7,67 juta dolar AS, bubuk pala 7,04 juta dolar AS.

Baca juga: 4 perusahaan internasional digandeng guna ekspansi pasar ekspor lada

 

Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020