Dirjen KKP ungkap perbedaan proses perdagangan AS-UE

Dirjen KKP ungkap perbedaan proses perdagangan AS-UE

Aktivitas ekspor komoditas ikan kerapu. ANTARA/HO-Dokumentasi KKP

Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Nilanto Perbowo mengungkapkan sejumlah perbedaan dalam proses perdagangan dalam pemberian jaminan mutu dan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE).

Nilanto Perbowo dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis, menyebutkan, Uni Eropa biasanya melalui pendekatan G to G (antarpemerintah), sedangkan Amerika Serikat biasanya melalui pendekatan G to B (pemerintah ke pebisnis).

"G to G mengamanatkan bahwa dalam hal jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan, pemerintah terlibat dalam memberikan jaminan dengan pendekatan otoritas kompeten," kata Nilanto.

Baca juga: KKP dorong semakin banyak perusahaan ekspor ikan kerapu

Sedangkan pendekatan G to B, masih menurut dia, mengamanatkan bahwa otoritas negara importir dapat melakukan jaminan langsung ke Unit Pengolahan Ikan (UPI) di Tanah Air tanpa melalui otoritas kompeten.

Kedua pendekatan itu harus benar-benar dipahami dalam rangka menjaga pasar ekspor produk perikanan baik di AS maupun di UE.

Nilanto menekankan agar kalangan pelaku usaha dapat benar-benar menjaga mutu produk perikanan, karena UE dan AS sama-sama memberlakukan persyaratan mutu yang ketat terhadap semua barang yang masuk ke wilayahnya, termasuk produk perikanan.

Hal ini, lanjutnya, guna melindungi masyarakat di sana dari ancaman kesehatan yang diakibatkan oleh produk pangan.

Baca juga: Pelaku usaha harapkan pengurusan SKP perikanan bisa lebih cepat

Berdasarkan catatan Badan Pusat statistik triwulan pertama tahun 2020, ekspor dari budidaya perikanan dinilai sangat menjanjikan.

Udang mendominasi ekspor komoditas sektor kelautan dan perikanan dengan nilai mencapai 466,24 juta dolar AS (37,56 persen); tuna-tongkol-cakalang (TTC) dengan nilai 176,63 juta dolar AS (14,23 persen).

Kemudian cumi-sotong-gurita dengan nilai 131,94 juta dolar AS(10,63 persen), serta disusul rajungan-kepiting dengan nilai 105,32 juta dolar AS (8,48 persen) dan rumput laut dengan nilai 53,75 juta dolar AS (4,33 persen).

Sebagaimana diwartakan, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto mengutarakan harapannya agar sektor kelautan dan perikanan dapat menjadi ujung tombak perekonomian nasional dalam masa pemulihan pasca COVID-19.
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020