Luhut dorong industri pengolahan bauksit, demi tekan impor

Luhut dorong industri pengolahan bauksit, demi tekan impor

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (tengah). ANTARA/HO-Kemenko Kemaritiman dan Investasi/am.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mendorong industri pengolahan bauksit, alumina, dan turunannya, guna menambah pasokan material untuk mobil listrik dan mengurangi impor bagi kebutuhan industri dalam negeri.

"Industri ini mengolah bauksit menjadi alumina kita bisa produksi turunannya yang bisa dijadikan untuk badan pesawat, kabel, kawat tembaga, tekstil, alat-alat elektronik dan lain lain. Turunan bauksit, seperti copper, nickel ore, bisa menjadi material untuk memproduksi mobil listrik," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Hal itu disampaikan Luhut dalam kunjungannya ke PT Bintan Alumina Indonesia di Pulau Bintan, Kamis (2/7).

Menurut mantan Menko Polhukam itu, industri alumina juga akan mengurangi impor kebutuhan kobalt yang selama ini diimpor dari Kongo.

Industri yang saat ini menempati kawasan seluas 300 hektare itu rencananya akan diperluas hingga 500 hektare dengan investasi saat ini 600 juta dolar AS tapi dan bisa berkembang sampai 2,5 miliar dolar AS pada 2027.

Baca juga: Luhut harap smelter bauksit di Bintan produksi awal 2021

"Selama ini kita tidak pernah tidak impor alumina. Dengan adanya industri ini kita menghentikan ekspor bauksit, mengurangi impor alumina. Karena kebutuhan alumina selama ini selalu ekspor. Inalum, contohnya, selama ini mereka impor dari Australia. Biayanya akan jauh lebih murah dengan alumina kita. Jadi ini industri yang bisa melayani supply chain dalam negeri sampai global," jelasnya.

Menurut Luhut, proyek tersebut sangat strategis karena produk turunannya bisa diekspor ke Amerika, China, Jepang, dan lain-lain.

PT Bintan Alumina Indonesia saat ini mempekerjakan sekitar 20.000 tenaga kerja dan kurang dari 10 persen dari jumlah itu adalah Tenaga Kerja Asing (TKA).

"Seperti di Morowali dan daerah lainnya, tenaga kerja asing itu mengerjakan hal-hal yang tidak bisa dikerjakan oleh tenaga kerja lokal. Secara bertahap mereka akan bangun politenik, kita sudah bicarakan dengan Gubernur dan Bupati. Jadi tidak benar pendapat yang mengatakan TKA akan menjajah kita, tidak seperti itu. Tidak ada pikiran seperti itu sama sekali. Mereka melakukan hal yang kita belum bisa lakukan. Seperti merakit mesin-mesin yang canggih, tetapi tenaga kerja lokal terus dilibatkan sehingga ada transfer pengetahuan. Ini menyiapkan Indonesia untuk melakukan leapfrog dalam industri ini," ungkap Luhut saat ditanya tentang tenaga kerja asing.

Baca juga: Luhut: China kekuatan dunia yang tidak bisa diabaikan

 
Pewarta : Ade irma Junida
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020