Inggris janjikan suntikan dana bagi sektor seni

Inggris janjikan suntikan dana bagi sektor seni

Seorang pendemo membawa lentera sementara staf NHS, serikat dan para pegiat berkumpul memprotes kinerja pemerintah dalam menangani krisis virus corona (COVID-19), di London, Inggris, Jumat (3/7/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Henry Nicholls/WSJ/djo (REUTERS/HENRY NICHOLLS)

London (ANTARA) - Pemerintah Inggris akan menyuntikkan dana sebesar hampir 2 miliar dolar AS ke dalam sektor seni, dengan harapan dapat membantu penyelenggaraan penampilan di lokasi-lokasi kebudayaan dengan pembatasan sosial.

Upaya tersebut dilakukan sebagai bantuan untuk membantu sektor kalangan atas yang terdampak berat oleh COVID-19 itu.

Industri seni merupakan ekspor Inggris yang terkenal dan digemari di kalangan turis dan penduduk lokal, meliputi teater-teater di area West End London, gedung-gedung opera dan perusahaan balet yang menampilkan pertunjukan beranggaran besar di berbagai area di seluruh negeri.

Namun perhelatan-perhelatan itu telah kehilangan penonton langsung sejak kebijakan karantina atau lockdown diberlakukan pada bulan Maret lalu, saat sektor-sektor lain telah mulai dibuka kembali.

"Saya ingin semua institusi kebudayaan kita untuk kembali normal," ujar Menteri Kebudayaan, Media, dan Olahraga Inggris Oliver Dowden pada Sky News, Senin.

"Saya berharap secepatnya kita dapat memberikan izin untuk pertunjukan di luar ruangan dan pada musim panas nanti (diharapkan) dapat ada pertunjukan-pertunjukan dengan pembatasan sosial."

Pemerintah Inggris mengatakan bahwa investasi sebesar 1,57 miliar poundsterling (setara dengan 1,96 miliar dolar AS dan sekitar 28 triliun rupiah) itu merupakan yang terbesar yang pernah ada bagi sektor kebudayaan negara tersebut.

Pada Sabtu, Inggris mengambil langkah terbesar dalam upaya untuk kembali ke kehidupan normal saat bar, restoran dan salon kembali diizinkan untuk beroperasi, yang terbantu dengan perubahan kebijakan pembatasan sosial pemerintah dari jarak 2 meter menjadi 1 meter lebih.

Meski demikian, belum jelas bagaimana hal tersebut dapat diimplementasikan di berbagai tempat kebudayaan yang bergantung pada kapasitas yang hampir penuh untuk mendapatkan keuntungan.

Royal Albert Hall, yang merupakan lokasi berbagai pertunjukan, termasuk konser musik klasik yang berlangsung selama 8 pekan dan dikenal sebagai BBC Proms, mengingatkan pada bulan lalu bahwa pihaknya akan kehabisan dana tunai pada awal tahun 2021 akibat hilangnya pemasukan dan tiket-tiket yang dikembalikan.

Pada Senin, pengelola Royal Albert Hall menyambut baik suntikan dana tunai pemerintah bagi sektor tersebut, yang mencakup hibah serta pembiayaan yang dibayar kembali.

"Ini benar-benar merupakan penyelamat hidup bagi kami," kata Direktur Utama Royal Albert Hall, Craig Hassall.

"Hingga nanti kami dapat buka kembali, kami tidak tahu sejauh mana uang akan bertahan, membuka lokasi dan menentukan untuk apa uang akan digunakan akan menjadi prioritas utama bagi kami."

Sumber: Reuters

Baca juga: Krisis COVID-19, Inggris kucurkan 2 miliar dolar bantu pekerja seni

Baca juga: KBRI London edukasi WNI di Inggris dan Irlandia hadapi new normal
Pewarta : Aria Cindyara
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020