Di PLTGU Priok, air sisa desalinasi diubah jadi PLTMH

Di PLTGU Priok, air sisa desalinasi diubah jadi PLTMH

Seorang awak kapal melakukan pengamatan kapal Nusantara Regas Satu yang menjadi Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Regas Satu seusai diresmikan penamaan dan pelepasannya di Jurong Shipyard, Singapura, Kamis (12/4). Terminal penerima dan regasifikasi LNG pertama Indonesia tersebut memiliki kapasitas maksimum tiga juta metrik ton LNG per tahun dan akan memasok kebutuhan gas untuk PLTGU Muara Karang dan PLTGU Tanjung Priok sebanyak 400 MMSCFD. FSRU Regas Satu tersebut telah mendapatkan pasokan LNG dari Bontang sebanyak 11,75 juta ton selama 11 tahun mendatang. FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/mes.

Jakarta (ANTARA) - PT Indonesia Power, anak usaha pembangkitan PT PLN (Persero), memanfaatkan air sisa desalinasi Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Priok, Jakarta Utara, sebagai sumber energi bagi pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH).

Pelaksana Senior Lingkungan Priok Power Generation and O&M Services Unit (POMU) PT Indonesia Power M Syaifuddin dalam laman Kementerian ESDM yang dikutip di Jakarta, Rabu, mengatakan listrik PLTMH digunakan untuk penerangan gedung kantor dan membantu memenuhi kebutuhan listrik bagi kebun hidroponik warga di Sunter, Jakarta Utara.

"Bila sebelumnya air sisa desalinasi ini dibuang begitu saja ke laut melalui outfall dengan debit 207,4 m3/h, kini energi potensial itu diubah menjadi listrik melalui PLTMH," jelasnya.

Priok POMU mengelola empat blok PLTGU dengan 10 turbin gas dan empat turbin uap dengan total kapasitas terpasang sebesar 2.723 MW, serta enam pusat listrik tenaga diesel (PLTD) berkapasitas 101 MW.

Sebelumnya, air destilat yang dipisahkan dari air laut itu digunakan untuk keperluan operasi unit, fire-fighting system, domestic water, dan lainnya. Sedangkan, air sisa proses desalinasi ini kemudian dialirkan kembali ke laut.

Syaifuddin menguraikan listrik PLTMH sebesar 6 kW-8 kW selain digunakan menerangi Gedung Priok Learning Center, juga disimpan dalam baterai (aki) 12V 100Ah untuk kemudian disalurkan bagi usaha hidroponik sayuran organik warga seperti pokcoy, bayam, kangkung, selada dan lain lain.

Program usaha hidroponik bertajuk "Taman Hatinya Sunter" itu merupakan bagian pemberdayaan masyarakat Priok POMU sekaligus menjawab permasalahan ketahanan pangan di sekitar operasi Sunter Muara.

"Tak hanya menghemat dan ramah lingkungan, masyarakat sekitar juga terbantu untuk menghidupkan pompa pada kebun hidroponik dengan energi baru terbarukan yang disimpan di baterai dalam bentuk paket aki. Kami sebagai operator pembangkit akan mendukung penuh program ini dengan menjaga kehandalan PLTMH dan melakukan monitoring secara berkala," tambah Raihan Muhammad, Operator GT HRSG & ST Blok 3 Priok POMU.

Bahkan, lanjutnya, saat pandemi COVID-19 dengan kegiatan masyarakat cukup terhambat, program lingkungan PLTMH ini tetap mampu menghidupkan aktivitas dan menambah penghasilan masyarakat sekitar.

"Selain untuk penggerak hidroponik, energi dari aki ini juga dimanfaatkan warga untuk proses pembuatan kue kering hingga penerangan rumah produksi," ujar Raihan.

Efisiensi daya listrik yang dihasilkan dari baterai aki ini mampu menekan biaya produksi selama masa produksi sehingga warga mampu melakukan penghematan dan mendapatkan keuntungan lebih.

Hal ini pun turut diapresiasi Wali Kota Jakarta Utara pada acara panen raya pada 12 Mei 2020 yang dilaksanakan secara daring.

Baca juga: Indonesia Power peroleh sertifikasi sistem manajemen anti penyuapan

Baca juga: Menko Luhut sebut bisa jadi Indonesia 'super power' energi hijau

Baca juga: Pengembangan energi bersih di Bali diapresisi Kementerian ESDM

 
Pewarta : Kelik Dewanto
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020