Pemberdayaan ODGJ di Banyuwangi masuk Top99 Inovasi Pelayanan Publik

Pemberdayaan ODGJ di Banyuwangi masuk Top99 Inovasi Pelayanan Publik

Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) menjalani terapi penyembuhan di Puskesmas Gitik, Rogojampi, Banyuwangi, Rabu (8/7).. (HO-Pemkab Banyuwangi)

Banyuwangi (ANTARA) - Program Terapi Okupasi dan Pemberdayaan Orang dengan Gangguan Jiwa (Teropong Jiwa) Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, masuk dalam jajaran Top 99 Inovasi Pelayanan Publik dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dari total 2.000 lebih inovasi se-Indonesia.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi dr Widji Lestariono mengatakan bahwa hal yang membuat spesial dari program Teropong Jiwa adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ)) setelah mendapat keterampilan, dengan disalurkan ke sejumlah tempat kerja dan ada yang diajak bekerja di UMKM.

"Orang tua asuh ini, maksudnya Puskesmas, mencari keluarga yang mau menerima ODGJ yang sudah pulih untuk bisa menjadi bagian dari keluarga dan program ini khusus bagi ODGJ yang tidak mempunyai keluarga," katanya di Banyuwangi, Rabu.

Baca juga: 75 pemandu wisata di Banyuwangi ikuti uji kompetensi normal baru

Ia menjelaskan Teropong Jiwa merupakan program pemberian terapi kerja bagi orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ yang diinisiasi oleh Puskesmas Gitik, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.

Bagi pasien ODGJ yang sudah stabil setelah menjalani serangkaian pengobatan, katanya, akan dilatih berbagai keterampilan kerajinan tangan setiap satu bulan satu sekali.

"Terapi kerja ini bertujuan agar pasien ODGJ tidak mengalami kekambuhan. Mereka bisa lebih fokus dan tidak mudah emosional, dan yang pasti tujuannya agar mereka bisa mandiri ke depan dan program ini berjalan sejak 2017," katanya.

Bagi mereka yang kerja di UMKM, lanjut dia, mereka ada yang ikut kerja di industri kue rumahan, membuat rengginang dan camilan ringan lainnya.

Baca juga: Banyuwangi buka sebagian tempat wisata dengan pembatasan

"Kalau orang tua asuh, mereka ada yang ikut orang dan diajak bekerja di usaha penggilingan beras. Jadi mereka diberi kesibukan untuk meminimalisir kambuh kembali," ujarnya.

Sementara itu, drg Ai Nurul Hidayah, selaku penanggung jawab kegiatan program Puskesmas Gitik Rogojampi, mengatakan sejak diluncurkan tiga tahun lalu, sudah ada 54 ODGJ yang dilatih di Puskesmas Gitik. Dari angka itu, 33 orang di antaranya telah dinyatakan stabil secara kejiwaan.

"Mereka diajari membuat aneka kerajinan tangan, seperti membuat kue, lampu, gantungan kunci, tas belanja dan aneka anyaman. Saat ini, sebanyak 25 ODGJ telah kerja di UMKM setempat dan delapan orang mendapat orang tua asuh," kata Nurul.

Pasien ODGJ yang menjalani terapi di Puskesmas Gitik, katanya, menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, rata-rata emosi mereka semakin stabil dan kooperatif.

"Kami buat perjanjian dengan pelaku UMKM, misalnya mereka harus memahami bahwa ODGJ yang sudah stabil tersebut tetap tidak bisa dipaksa. Kalau mereka lagi tidak mood kerja, pemilik usaha harus memahaminya, jangan dimarahi. Kami bersyukur semua memahami aturan ini," ujarnya.

Baca juga: Pemkab Banyuwangi bantu tes cepat gratis sopir yang hendak ke Bali
Baca juga: Nasi tempong dan kisah kuliner pedas Banyuwangi
Baca juga: Banyuwangi bantu tes cepat COVID-19 gratis bagi pelajar ikuti UTBK
Pewarta : Masuki M. Astro/Novi Husdinariyanto
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020