Urban farming diminati warga Surabaya saat pandemi COVID-19

Urban farming diminati warga Surabaya saat pandemi COVID-19

Dokumentasi - Petani di wilayah Kelurahan Sumur Welut, Kecamatan Lakarsantri, Kota Surabaya, Jatim, sedang memanen cabai. Diketahui sebagain besar warga setempat menerapkan "urban farming" dengan memanfaatkan lahan kosong untuk usaha berbagai jenis pertanian, seperti bertanam padi, jagung, cabai dan sayuran. (ANTARA/HO-Humas Pemkot Surabaya)

Surabaya (ANTARA) - Urban farming atau pertanian perkotaan banyak diminati warga Kota Surabaya, Jawa Timur, selama pandemi COVID-19.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya Yuniarto Herlambang, di Surabaya, Selasa, mengatakan saat ini urban farming diminati warga dengan dibuktikan dalam tiap hari banyak permintaan bibit tanaman ke kantor DKPP yang berada di Jalan Pagesangan II Nomor 56 Surabaya.

"Kami terus memberikan pendampingan dan bantuan stimulan berupa bibit tanaman kepada warga yang berminat dalam budidaya tanaman melalui metode urban farming, baik itu berupa tanaman pangan maupun hortikultura," katanya.

Bahkan, lanjut dia, pihaknya menyatakan setiap hari permintaan bibit tanaman ke kantor DKPP selalu ada, baik itu permintaan bibit perorangan maupun kelompok. Namun karena keterbatasan jumlah bibit, sehingga tidak semua permintaan itu difasilitasi.

Baca juga: Pertanian pekarangan jaga ketahanan pangan keluarga di era pandemi

Baca juga: Bertanam dinilai jadi solusi penghasilan di tengah pandemi


"Kalau (permintaan) banyak mungkin kita survei dahulu, apakah cocok lahannya, tapi kalau sedikit pasti kita beri. Permintaan terus meningkat," katanya.

DKPP Surabaya mencatat dalam beberapa tahun terakhir permintaan bibit tanaman terus mengalami kenaikan signifikan. Pada tahun 2017, permintaan bibit tanaman mencapai 5 ribu, kemudian tahun 2018 sekitar 10 ribu dan di tahun 2019 mencapai 100 ribu. Sedangkan di tahun 2020, hingga bulan Juli ini permintaan bibit sudah mencapai 80 ribu.

"Belum sampai akhir tahun 2020 permintaan bibit sudah sekitar 80 ribu. Yang paling banyak permintaan bibit sayuran dan toga. Kalau Sayuran seperti cabai, tomat, terong, okra. Kalau toga, aneka macam, mulai empon-empon," kata Herlambang.

Menurut dia, di tengah pandemi saat ini program urban farming sangat cocok diterapkan, khususnya dalam upaya ketahanan pangan. Untuk itu, kata dia, DKPP Surabaya terus berperan aktif untuk mendorong dan membantu masyarakat dalam mengoptimalkan program ketahanan pangan tersebut.

"Jadi kalau memang masyarakat membutuhkan benih atau bibit-bibit kita dukung itu. Permintaan bisa perorangan atau per kelompok. Kita juga lihat permintaannya (jumlah) bibit dengan kondisi di lapangan," ujarnya.

Khusus bagi warga Surabaya yang ingin mengajukan bibit tanaman gratis bisa langsung datang ke kantor DKPP. Namun, kata Herlambang, untuk mendapatkan bibit tanaman itu, warga juga harus melengkapi beberapa persyaratan seperti mengisi formulir identitas dan formulir kesediaan untuk pemeliharaan tanaman. Selain itu, warga juga harus melengkapi dengan foto copy identitas diri

"Itu kalau perorangan atau pengajuan bibit tidak dalam jumlah banyak, misal satu orang dengan lima bibit tanaman. Kalau kelompok atau lembaga bisa mengajukan surat permohonan. Biasanya petugas kami akan melakukan monitoring dahulu, kalau kelompok biasanya lebih dari 100 bibit," katanya.*

Baca juga: Indef nilai "urban farming" akan berperan penting pascapandemi COVID

Baca juga: Pengendalian inflasi di Balikpapan andalkan Program Urban Farming
Pewarta : Abdul Hakim
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020