Pandemi, pemerintah prioritaskan empat sektor pasokan energi

Pandemi, pemerintah prioritaskan empat sektor pasokan energi

Pengemudi Bajaj mengisi bahan bakar gas (BBG) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) PGN Klender, Jakarta, Rabu (22/4/2020). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto mengungkapkan selama pandemi COVID-19, pemerintah prioritaskan empat sektor yang jadi target utama pasokan energi Pemerintah adalah transportasi, listrik, rumah tangga dan industri.

"Di masa pandemi, jaminan akses suplai energi harus tetap terjaga untuk tranpostasi, listrik, dan rumah tangga seperti kebutuhan energi untuk memasak. Masyarakat harus bisa mendapatkan itu," kata Djoko dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Jumat.

Selain itu, ujar dia, sektor industri juga menjadi perhatian utama pemerintah guna menjamin keberlangsungan sektor yang mampu serap ribuan tenaga kerja.

"Saya juga berharap semua industri tetap beroperasi, kami jamin terutama dari segi suplai energi," ujar Sekretaris DEN.
Baca juga: Ini langkah pemerintah jaga pasokan energi sampai Tahun Baru

Djoko menjelaskan, sejak kasus COVID-19 diumumkan, Djoko Siswanto menyatakan bahwa  Indonesia sebetulnya memiliki kelebihan suplai.

"Dalam masa pandemi sejak Maret 2020 sudah hampir enam bulan dari segi suplai kita berlimpah. Bahkan kita kelebihan solar misalnya. Karena orang semua di rumah tidak bekerja, kita (waktu itu) khawatir distribusinya," ungkap Djoko.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah melalui Badan Usaha (BU) yang ditunjuk tetap membuka layanan SPBU dan LPG. Konsep pelayanan bahkan dilakukan melalui daring.

"Saya pikir kebijakan ini dilakukan di seluruh di dunia, bahwa yang tetap buka adalah SPBU. Di Indonesia LPG juga tetap buka. Bahkan kita bisa masuk lewat layanan online, problem distribusi sudah bisa kita atasi," kata Djoko.
Baca juga: Pengamat dorong distribusi BBM diutamakan untuk pulau terluar

Djoko mengakui adanya pandemi malah membuat ketahanan energi Indonesia semakin membaik karena baik dari sisi pasokan maupun distribusi relatif tidak menjadi masalah.

Sementara itu, terkait penyediaan infrastruktur, Pemerintah masih tetap memprioritaskan pembangunan infrastruktur energi.

"Pengalihan anggaran untuk COVID-19 diperuntukan yang nonfundamental. Sedangkan anggaran subsidi untuk energi tidak berubah. Yang kita fokus (dipotong) adalah rapat-rapat dan perjalanan dinas karena bisa diganti secara virtual," ujarnya.

Sebagai informasi, untuk menjamin ketersediaan energi, Pemerintah telah memberikan bantuan keringanan tagihan listrik kepada pelangan Rumah Tangga dan Bisnis 450 VA dan sebagian 900 VA selama enam bulan. Sementara dari segi industri, Pemerintah telah memberikan stimulus dengan menetapkan harga gas industri di tujuh manufaktur berbasis gas maksimal sebesar 6 dolar As per MMBTU.

Baca juga: DEN sebut ketahanan energi Indonesia masuk kategori "tahan"

Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2020