88 Marijo hadirkan bandeng tanpa duri berstandar nasional

88 Marijo hadirkan bandeng tanpa duri berstandar nasional

Suasana UKM 88 Marijo saat menerima Kepala Bidang hukum dan Humas BSN Budi Rahardjo (kiri) didampingi Ketua UKM 88 Marijo Mariani (kedua kiri) di Kabupaten Pinrang, Sulsel. ANTARA Foto/Suriani Mappong

Makassar (ANTARA) - Memiliki produk usaha dengan ciri khas yang dapat dikenal dan diperhitungkan di tingkat nasional, bahkan menembus pasar mancanegara, menjadi harapan semua pengusaha, tak terkecuali Mariani yang sudah merintis usahanya sejak 2008.

Kegigihan Mariani yang merupakan warga Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, ini dalam membangun industri rumah tangga, telah membuahkan hasil setelah jatuh bangun mengembangkan produk ikan bandeng tanpa duri.

"Awalnya terinspirasi dengan adanya ibu-ibu tetangga yang masih memiliki paruh waktu tanpa ada kegiatan, sementara kebutuhan rumah tangganya belum dapat tertutupi sepenuhnya dari penghasilan suami yang umumnya adalah buruh tani," kata ibu paruh baya ini.

Karena itu, akhirnya Mariani mengajak 11 orang ibu rumah tangga di sekitar rumahnya untuk merintis usaha ikan bandeng tanpa duri. Awalnya, hanya memproduksi 50 ekor hingga 100 ekor ikan per hari dan pangsa pasarnya masih di seputar Kabupaten Pinrang yang juga dikenal dengan nama "Bumi Sawitto" itu.

Seiring perlanan waktu, Marini pun terus menimba ilmu dan pengalaman melalui satu pelatihan kewirausahaan ke pelatihan lainnya hingga akhirnya dia mampu menyempurnakan produknya dan berhasil mengantongi sertifikasi dari Badan Standarisasi Nasional (BSN) pada Tahun 2014.

Dengan sertifikat dari Standar Nasional Indonesia (SNI) itu di tangan, produksi UKM 88 Marijo berupa bandeng tanpa duri sudah mendapatkan kepercayaan konsumen nasional, bahkan konsumen di luar negeri berkat sertifikat SNI yang dia kantongi.

"Awal berdirinya Marijo 88 hanya memproduksi 50 - hingga100 ikan bandeng tanpa duri per hari dengan mempekerjakan 11 orang pekerja, namun setelah memiliki sertifikat SNI pada Tahun 2014, permintaan semakin banyak," kata dia, menjelaskan.

Sebagai gambaran, lanjut dia, setelah memiliki sertifikat SNI produksinya rata-rata 500 hingga 700 ekor ikan bandeng tanpa duri per hari dengan melibatkan pekerja lebih banyak dari sebelumnya, dari 11 menjadi 29 orang.

Pentingnya mendapatkan pengakuan produk dari BSN itu yang dinilai dapat memberikan nilai tambah, diakui Kepala Bidang hukum dan Humas BSN Budi Rahardjo.

Saat meninjau UKM 88 Marijo di Pinrang,beberapa waktu lalu, Budi menjelaskan dengan memiliki sertifikasi SNI akan memberikan nilai tambah bagi sebuah usaha, seperti yang dialami UKM 88 Marijo yang sudah menjadi modal. Selain memiliki modal sertifikat, diharapkan UKM ini dapat menjadi model bagi UKM lainnya agar juga mengantongi sertifikasi sehingga produknya bisa diterima oleh pasar global.

"Dengan penerapan SNI ini produksi semakin meningkat, dan pekerja juga sudah mengetahui proses dalam bekerja yang sesuai standar SNI," katanya.
Salah seorang pekerja UKM 88 Marijo yang menghilangkan duri ikan bandeng, Sulsel. ANTARA Foto/Suriani Mappong

Sementara dari sisi penyerapan tenaga kerja dan upaya memperbaiki perekonomian keluarga, salah seorang pekerja Nurhayati yang sudah bergabung dalam usaha Mariani sejak 2008 mengakui, hasil upahnya dapat membiayai pendidikan anak-anaknya dan salah seorang anaknya sudah menjadi seorang sarjana.

Dari produksi ikan bandeng tanpa duri dan produk turunannya, seperti abon ikan, krupuk dan bakso ikan bandeng telah menghasilkan pendapatan untuk UKM 88 Marijo rata-rata Rp120 juta dari produksi 3,4 hingga 4 ton per bulan.

Sementara untuk memudahkan produknya agar bisa dijangkau oleh pelanggan, Mariani sudah membuka cabang penjualan di Perumahan Nusa Tamalanrea Indah, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar.

Salah seorang pelanggan ikan bandeng 88 Marijo di Makassar Subaedah menuturkan, bandeng tanpa duri ini menjadi alternatif konsumsi yang dapat diperoleh dengan mudah pada masa pandemi COVID-19.

"Cukup pesan melalui aplikasi jasa transportasi daring, pesanan kami bisa diantar ke rumah. Ini sangat tepat untuk mendukung program pemerintah dalam menjaga jarak untuk mencegah penyebaran COVID-19," katanya.

Agaknya wajar jika produk UKM yang dikelola Mariani ini selalu mendapatkan tempat khusus pada pameran-pameran yang diselenggarakan instansi pemerintah maupun swasta. Salah satu pameran produk khas dalam negeri yang spektakuler yang pernah diikuti oleh Mariani adalah Festival Nasional produk ber-SNI yang digelar BSN pada 2017 di Kota Makassar.

"Ketika itu, semua produk unggulan, mulai skala industri rumah tangga hingga UMKM dari Jawa, Sulawesi dan Kalimantan dipamerkan di Makassar. Selain itu juga digelar seminar, dan berbagi pengalaman dengan UKM yang menjadi percontohan," kata Mariani yang mengaku sangat bersyukur terpilih menjadi salah seorang pembicara untuk berbagi praktik baik dari usahanya itu.

Sementara kegiatan usaha 88 Marijo yang tenaga kerjanya didominasi dengan perempuan pada masa pandemi COVID-19, tetap mengedepankan protokol kesehatan dengan menjaga jarak dan menggunakan masker dan kaos tangan.

Protokol kesehatan itu sudah diberlakukan sejak mengantongi sertifikat SNI pada 2014, karena salah satu persyaratan mendapatkan sertifikasi itu adalah semua pekerjanya menerapkan protokol kesehatan di tempat kerja.

Hal itu untuk memberikan jaminan produk yang dihasilkan itu higienis dan aman untuk dikonsumsi. Apalagi produk 88 Marijo ini sebagian juga dikirim ke luar negeri dan kerap menjadi oleh-oleh bagi warga Sulsel yang bepergian ke mancanegara.
Pewarta : Suriani Mappong
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2020