Hasto: Ributnya kelompok anti Pancasila tak terlepas dari geopolitik

Hasto: Ributnya kelompok anti Pancasila tak terlepas dari geopolitik

Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto. (ANTARA/HO-DPP PDIP)

Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan pihaknya meyakini adanya kelompok kecil anti Pancasila yang ribut di media sosial tidak lepas dengan persoalan kepentingan geopolitik global terhadap Indonesia.

"PDI Perjuangan meyakini bahwa berbagai persoalan ideologi bangsa Indonesia terhadap adanya kelompok kecil yang anti Pancasila namun bersuara lantang di sosmed tidak terlepas dari persoalan geopolitik dan pertarungan ideologi transnasional dengan Pancasila," kata Hasto, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Jika geopolitik dipahami, katanya, maka Indonesia adalah titik temu peradaban dunia karena terletak di antara dua benua dan dua samudera.

Baca juga: Hasto tegaskan PDIP anti-komunisme dan sekulerisme

Sejak Indonesia merdeka, kata Hasto, lahirnya pemikiran bahwa kemerdekaan Indonesia bertujuan untuk membangun persaudaraan dunia, taman sarinya dunia. Di situlah Pancasila hadir sebagai ideologi dunia karena berbeda dengan marxisme-komunisme dan kapitalisme-liberalisme saat itu.

Sejak awal, kata Hasto, Pancasila sudah berbeda dengan kedua ideologi tersebut. Bila marxisme-komunisme dan kapitalisme-liberalisme mengandung benih-benih imperialisme kolonialisme, Pancasila justru bertujuan membangun persaudaraan dunia.

"Hal yang sama juga berlaku untuk globalisasi yang mendorong fundamentalisme pasar, dan fundamentalisme agama, sebagai transnasional ideologi yang tidak sesuai dengan Pancasila," kata Hasto.

Dia menyebut parahnya tekanan geopolitik itu pula, Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf dan PDI Perjuangan selalu mempromosikan Pancasila sebagai ideologi dunia yang sangat relevan dalam realitas saat ini, termasuk dalam krisis di Timur Tengah, ketegangan di Laut China Selatan, dan krisis akibat pandemi COVID-19.

"Kita kobarkan semangat bahwa dalam menghadapi COVID, maka rasa berketuhanan, berperikemanusiaan, rasa senasib, hasrat untuk solider dan bergotong royong serta berbela rasa dalam kehidupan yang berkeadilan benar-benar dibutuhkan," kata Hasto.

Baca juga: BPIP-TNI kerja sama pulihkan prajurit terpapar paham anti-Pancasila

Dia menambahkan bahwa Proklamator Soekarno sudah sejak awal menegaskan pentingnya ilmu geopolitik. Pemahaman Indonesia sebagai satu bangsa, yang memiliki perasaan senasib, satu cita-cita, satu kehendak, dan satu jiwa yang melekat erat dengan tanah airnya sebagai satu kesatuan.

PDI Perjuangan, kata dia, melaksanakan juga prinsip bahwa pemahaman geopolitik ini penting diajarkan dalam sekolah calon kepala daerah Partai menuju Pilkada Serentak 2020 yang akan digelar dalam waktu dekat.

"Pembumian Pancasila tidak hanya ke dalam, diperlukan cara pandang keluar, outward looking tentang Indonesia bagi dunia. Itulah yang digelorakan oleh PDI Perjuangan dalam proses kaderisasi kepemimpinan," kata Hasto Kristiyanto.

Baca juga: Presiden minta FKPPI hadang ajaran anti-Pancasila
Pewarta : Syaiful Hakim
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020