Soleman Ponto: Beli pesawat Eurofighter berpotensi langgar UU

Soleman Ponto: Beli pesawat Eurofighter berpotensi langgar UU

Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI, Laksamana Muda TNI (Purn) Soleman B Ponto. ANTARA FOTO/Andika Wahyu

Jakarta (ANTARA) - Pengamat kemaritiman dan intelijen, Laksamana Muda TNI (Purnawirawan) Soleman B Ponto, menilai rencana pembelian pesawat tempur Eurofighter Thypoon bekas milik Austria berpotensi melanggar undang-undang.

"Itu melanggar UU Nomor 16/2012 tentang Industri Pertahanan karena tidak memungkinkan membeli pesawat bekas," kata dia, saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, kondisi pesawat yang bekas juga tidak memungkinkan untuk mengetahui harga pastinya di pasaran sehingga membuka peluang besar terjadinya kongkalikong.

Baca juga: Eurofighter Typhoon klarifikasi soal kandungan domestik

Dari aspek pemeliharaan, kata dia, kondisi barang yang bekas tentu membuat biaya pemeliharaan sulit ditaksir karena menyangkut komponen atau suku cadang.

"Ada yang namanya suku cadang kritis, seperti radar, dan macam-macam lainnya. Masih ada enggak itu? Kalau radar saja rusak, pesawat enggak bisa terbang," kata mantan kepala Badan Intelijen Strategis TNI itu.

Artinya, kata dia, banyak persiapan menyangkut pemeliharaan, termasuk SDM yang tentu membutuhkan biaya sangat besar. "Butuh biaya sangat besar, sangat rugi. Belum lagi kalau nanti jatuh. Yang baru saja bisa jatuh, apalagi yang lama," katanya.

Selain itu, dia mengingatkan bahwa keputusan untuk pengadaan pesawat tempur semestinya bukan di menteri pertahanan, tetapi di TNI AU.

Sesuai dengan UU Nomor 34/2004 tentang TNI, kata dia, menteri pertahanan semestinya hanya sebagai pembuat kebijakan, sementara pelaksanaannya oleh TNI AU.

Baca juga: Eurofighter Typhoon diyakini bisa tingkatkan kapabilitas Indonesia

Baca juga: Pesawat tempur Eurofighter Typhoon akan hadir di Indonesia


Hal itu termasuk kajian-kajian secara teknis menyangkut spesifikasi pesawat tempur dan sebagainya sesuai dengan yang dibutuhkan juga diserahkan kepada TNI AU.

"Bukan di Menhan, keputusannya ada di TNI AU. Menhan tinggal menyiapkan anggarannya, yang dibutuhkan berapa. Jadi, malah ada dua UU yang dilanggar," kata Soleman.

Sebelumnya, Indonesia dikabarkan berminat membeli 15 pesawat tempur buatan konsorsium Eropa, yakni Eurofighter Typhoon, yang saat ini dioperasikan AU Austria.

Menhan Prabowo Subianto disebut telah mengajukan proposal kepada Menteri Pertahanan Austria, Klaudia Tenner, untuk mengakuisisi 15 pesawat tempur jenis delta wing hasil rancangan empat negara, yakni Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol itu.

Situs berita berbahasa Jerman, Kronen Zeitung, mengunggah foto proposal tawaran pembelian 15 pesawat Eurofighter Typhoon dari Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, kepada Tenner.

Hingga berita ini diturunkan, ANTARA masih melakukan konfirmasi ke pihak Kementerian Pertahanan terkait pemberitaan ini.

Baca juga: Eurofighter pamer cockpit demonstrator di Indo Defence 2014
Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2020