AIIB nilai Indonesia punya potensi besar untuk pulih dari COVID-19

AIIB nilai Indonesia punya potensi besar untuk pulih dari COVID-19

Kantor pusat Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) di Beijing, China (7/7/2020). ANTARA/REUTERS/Tingshu Wang/aa.

Jakarta (ANTARA) - Vice President and Chief Administration Officer Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) Luky Eko Wuryanto menilai Indonesia memiliki potensi yang besar untuk pulih dari pandemi COVID-19.

“Potensi Indonesia sangat besar tapi kondisi pada saat ini tidak hanya Indonesia melainkan hampir semua negara menghadapi tekanan akibat pandemi yang unprecedented,” katanya di Jakarta, Rabu.

Luky menyebutkan salah satu potensi yang dimiliki adalah posisi ekonomi Indonesia yang masuk peringkat 16 terbesar sehingga dapat menjadi anggota G20.

Meski demikian, ia menuturkan semua tergantung dari cara pemerintah dan masyarakat dalam memanfaatkan potensi tersebut untuk melakukan pemulihan.

Potensi yang dimiliki Indonesia harus mampu menggerakkan aktivitas ekonomi sehingga pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat

“Itu karena pandemi mengguncang berbagai sektor ekonomi yang selama ini berjalan menjadi tidak bisa lagi berjalan seperti sebelum pandemi,” katanya.

Luky menjelaskan ada prinsip yang harus digunakan agar Indonesia dapat segera pulih yaitu menekan penambahan jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia.

“Pertanyannya apakah semua effort yang diperlukan untuk menjamin adanya pemulihan dalam konteks kesehatan sudah dijalankan maksimal,” tegasnya.

Ia mengatakan pengendalian kasus COVID-19 akan berimplikasi pada kenyamanan orang untuk mulai berusaha menggerakkan aktivitas ekonomi.

“Permasalahannya masih cukup panjang untuk Indonesia. Pemerintah Indonesia punya pandangan lebih komprehensif karena itu tergantung pada bagaimana menghidupkan sektor ekonomi,” katanya.

Ia menegaskan pemerintah Indonesia harus mampu memilih secara cermat sektor yang akan diprioritaskan untuk pulih terlebih dahulu dengan mempertimbangkan ketersediaan anggaran.

“Kita harus pilih mana yang kalau dilakukan dengan biaya tidak terlalu banyak justru dampaknya besar. Secara potensi Indonesia punya banyak tapi sekarang bagaimana pilih dengan cermat prioritasnya,” katanya.

Baca juga: Ekonom: Defisit fiskal diperketat terlalu cepat picu kontraksi
Baca juga: Sri Mulyani: Pemulihan ekonomi sangat tergantung penanganan COVID-19
Baca juga: Presiden Jokowi: Ekonomi RI diproyeksi pulih tercepat setelah China
Pewarta : Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020