Jepang siaga dengan lonjakan kasus COVID-19 di tengah kampanye wisata

Jepang siaga dengan lonjakan kasus COVID-19 di tengah kampanye wisata

Siswa mengenakan masker pelindung wajah, bertepuk tangan alih-alih menyanyikan lagu saat kelas musik di sekolah dasar Takanedai Daisan, yang menerapkan berbagai metode jarak sosial untuk mencegah penularan wabah penyakit virus corona(COVID-19) di Funabashi, timur Tokyo, Jepang, Kamis (16/7/2020). ANTARA FOTO/REUTERS / Kim Kyung-Hoon/AWW/djo (REUTERS/KIM KYUNG-HOON)

Tokyo (ANTARA) - Jepang tengah bersiap dengan lonjakan kasus COVID-19 dengan lebih dari 1.000 kasus baru untuk pertama kalinya, muncul satu pekan setelah pemerintah memulai kampanye perjalanan domestik untuk membangkitkan industri pariwisata.

Per Rabu (29/7) otoritas kesehatan mengonfirmasi sebanyak 1.264 kasus baru COVID-19 terjadi di seluruh Jepang, demikian laporan lembaga penyiaran NHK. Angka itu melampaui rekor sebelumnya di angka 981 kasus.

Prefektur Iwate di Jepang bagian utara, yang sempat menjadi prefektur terakhir bebas COVID-19, melaporkan kasus pertama pada Rabu. Sementara prefektur Okinawa di selatan mencatat 44 kasus, rekor dalam tiga hari berturut-turut.

Sebelumnya, pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe meluncurkan kampanye perjalanan nasional bertajuk "Mari Berpergian" pada 22 Juli yang menyasar pemulihan industri pariwisata sekalipun kasus infeksi COVID-19 masih tercatat cukup tinggi.

Norio Sugaya, seorang anggota panel influenza Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai kampanye itu dirilis pada waktu yang tidak tepat.

"Saya sangat mendukung industri pariwisata [...] namun kita harusnya tidak melakukan (kampanye) itu ketika infeksi kembali naik. Virus ini menyebar selagi orang-orang berpergian. Jelas bahwa hal itu adalah sebuah kesalahan," kata Sugaya.

"Para dokter akan segera memberikan tanda peringatan. Rumah sakit akan segera terisi, begitu pula dengan ruang rawat intensif," ujar dia menambahkan.

Di sisi lain, Tokyo berencana untuk memangkas jam operasional restoran dan tempat karaoke pada bulan depan, sebagai salah satu upaya mengurangi tambahan kasus yang saat ini tengah melonjak, demikian dikutip dari surat kabar bisnis Nikkei.

Pemerintah setempat mempertimbangkan pemberian kompensasi sebesar 200.000 yen (sekitar Rp27 juta) untuk toko-toko yang mematuhi permintaan otoritas agar tutup pada pukul 10 malam dari 3 hingga 31 Agustus.

Sumber: Reuters

Baca juga: Kasus COVID-19 naik, Jepang desak lebih banyak bekerja secara daring

Baca juga: Jepang setujui dexamethasone sebagai obat COVID-19
Pewarta : Suwanti
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020