Survei: Pembangkit tenaga angin diprediksi bertambah usai COVID-19

Survei: Pembangkit tenaga angin diprediksi bertambah usai COVID-19

Sejumlah kuda berada di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Selasa (15/10/2019). PLTB Jeneponto kini telah beroperasi dengan kapasitas 72 megawatt yang akan membantu pasokan listrik di Wilayah Sulselbar dengan kekuatan putaran 20 buah turbin kincir angin. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/pras.

Jakarta (ANTARA) - Survei dari GWEC Market Intelligence menyebutkan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai dinilai sebagai kontributor utama bagi pemulihan ekonomi pasca pandemi COVID-19 oleh pemerintah di seluruh dunia.

Dengan penambahan 6,1 GW kapasitas baru, tahun 2019 merupakan periode terbaik dalam sejarah untuk industri pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai global dan terlepas dari dampak krisis COVID-19, tahun 2020 diperkirakan terpasang kapasitas yang sama.

Hasil survei yang diterima di Jakarta, Jumat, menyebutkan Eropa menjadi wilayah utama untuk instalasi, tetapi pasar siap lepas landas di Asia Pasifik dengan China memimpin dalam kapasitas baru dan negara seperti Taiwan, Vietnam, Jepang, dan Korea Selatan bersiap mempercepat transisi energi hingga 2030.

GWEC Market Intelligence memperkirakan hingga 2030, lebih dari 205 GW kapasitas pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai baru akan bertambah secara global—naik 15 GW dari prospek tahun lalu—didukung oleh ambisi kebijakan, penurunan biaya teknologi, dan komitmen internasional untuk dekarbonisasi.

Data menyebutkan kapasitas pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai akan melonjak hingga lebih dari 234 gigawatt (GW) pada 2030 dari 29,1 GW pada akhir 2019. Menurut laporan baru dari Global Wind Energy Council (GWEC), lonjakan tersebut didorong oleh pertumbuhan eksponensial di kawasan Asia Pasifik dan pertumbuhan kuat di Eropa.

Direktur Strategi GWEC Feng Zhao, mengatakan prospek industri telah tumbuh lebih menjanjikan karena semakin banyak negara menyadari potensi besar dari pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai. "Ketika pasar terus tumbuh, inovasi di sektor ini seperti pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai terapung, turbin lebih besar dan efisien, akan terus membuka pasar baru. Menempatkan industri lepas pantai di posisi semakin penting dalam mendorong transisi energi global," katanya.

Pasar pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai global tumbuh rata-rata 24 persen setiap tahun sejak 2013. Eropa tetap menjadi pasar terbesar untuk pembangkit jenis ini pada akhir 2019, yang merupakan 75 persen dari total instalasi global. Eropa akan terus menjadi pemimpin dalam pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai, dengan tujuan ambisius 450 GW pada 2050 didorong oleh instalasi di Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Denmark, dan Polandia, dengan beberapa pasar Uni Eropa lainnya membukukan volume dua digit.

Terkait dengan energi terbarukan Indonesia, beberapa upaya juga dilakukan bersama Eropa. Pemerintah Inggris bersama Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meluncurkan program Mentari, Program Kemitraan Energi Rendah Karbon Inggris-Indonesia guna mendukung upaya pemulihan ekonomi yang ramah lingkungan di Indonesia.

Potensi energi terbarukan (EBT) Indonesia adalah salah satu yang terbesar di dunia, sebesar 442 GW atau 6,5 kali kapasitas pembangkitan saat ini. Saat ini, Indonesia baru menggunakan 2,15 persen dari kapasitas tersebut, sehingga peluangnya masih sangat besar. Menyadari hal tersebut, Indonesia telah menetapkan target EBT untuk mencapai 23 persen dari total energi yang dihasilkan pada tahun 2025.

Baca juga: PLN kaji pembangkit listrik tenaga angin di Banten
Baca juga: Saudi dapat 25 penawar proyek pembangkit tenaga angin
Baca juga: Belanda resmikan ladang turbin angin terbesar di dunia

Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020