Cara perempuan adat bertahan di masa pandemi COVID-19

Cara perempuan adat bertahan di masa pandemi COVID-19

Tangkapan layar Dewan Nasional Perempuan AMAN Region Sumatera Meiliana Yumi dalam diskusi di Jakarta, Senin (10/8/2020) ANTARA/Prisca Triferna

Jakarta (ANTARA) - Perempuan adat bertahan di tengah pandemi COVID-19 dengan terus mengelola tanah adat yang dapat menjaga ketahanan pangan komunitas, kata Dewan Nasional Perempuan Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN) Region Sumatera Meiliana Yumi.

"Perempuan adat memiliki peran dan fungsi penting dalam menjaga ketahanan hidup di komunitas berdasarkan asal usul leluhur," kata Meilianan Yumi dalam diskusi virtual AMAN yang dipantau di Jakarta, Senin.

Baca juga: Kapolres: Tokoh adat dua suku desa Andosi komit jaga kamtibmas

Pada masa pandemi ini, kata Yumi, perempuan adat membuktikan diri mereka berperan sebagai bagian dari masyarakat adat.

Dia memberi contoh bagaimana kegiatan para perempuan yang tergabung dalam Perempuan AMAN Rakyat Penunggu terus melakukan kegiatan berkebun di wilayah adatnya serta menyosialisasikan pengelolaan tanah adat.

Baca juga: Masyarakat adat Wondama serahkan tanah untuk bandara baru

Hal itu dilakukan agar masyarakat adat dapat menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan di wilayah adatnya, tegas perempuan adat dari Kampong Menteng Tualang Pusu Provinsi Sumatera Utara itu.

Dia menegaskan sejak beberapa tahun lalu para perempuan adat telah menyadari pentingnya pengelolaan tanah adat untuk bertani dan berkebun, tanpa menyadari manfaatnya dalam beberapa tahun kemudian saat terjadi pandemi COVID-19.

Baca juga: Tokoh adat Sijunjung adukan nasib ke DPRD Sumbar terkait tanah adat

"Ternyata apa yang kami lakukan dari 2018 memberi makna bagi kami bahwasannya inilah efek dari kita mulai mengelola tanah adat, baik secara kolektif maupun perseorangan yang dilakukan perempuan adat," kata dia.

Yumi memberi contoh beberapa hasil pengelolaan ladang perempuan adat seperti buah dan sayuran merupakan bentuk kerja keras mereka dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan di komunitas masyarakat adat.

Berkat hasil ladang yang mereka kelola tersebut selama pandemi mereka juga dapat melakukan barter hasil produksi dengan kampung-kampung sekitar.

Secara umum, perempuan adat di wilayahnya telah melakukan beberapa langkah untuk memastikan bahwa nilai ekonomi didapatkan dari hasil pengelolaan tanah adat itu dengan memperluas jaringan untuk memasarkan hasil panen.

Perempuan AMAN Rakyat Penunggu juga telah melakukan koordinasi dengan Dinas Kehutanan dan Pertanian setempat dengan salah satu bentuk kerja samanya adalah pemberian bibit dari pemerintah daerah untuk memperbanyak jenis tanaman yang dikelola perempuan adat.
 
Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2020