Satgas COVID-19 pahami banyak sekolah di pedalaman sulit akses digital

Satgas COVID-19 pahami banyak sekolah di pedalaman sulit akses digital

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Bakti Bawono Adisasmito mengatakan situasi penularan COVID-19 di wilayah DKI Jakarta perlu mendapatkan perhatian masyarakat secara luas dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta, Selasa (28/7/2020). (ANTARA/HO-Satgas COVID-19/BNPB)

Jakarta (ANTARA) - Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menegaskan, pihaknya memahami banyak satuan pendidikan atau sekolah di daerah pedalaman (3T-terdepan, terluar, tertinggal) yang kesulitan melakukan pembelajaran jarak jauh karena minimnya akses digital.

“Untuk itu imbauan melakukan simulasi dan monitoring bagi daerah yang akan memperbolehkan belajar tatap muka perlu dilakukan dengan baik,” kata Wiku Adisasmito dalam konferensi pers di Kantor Presiden Jakarta, Selasa.

Baca juga: 117 SMA/SMK di Garut siap laksanakan belajar tatap muka

Maka dari itu, ia menegaskan perlunya pengawalan yang ketat protokol kesehatan dan pembelajaran tatap muka bagi para siswanya.

Pada kesempatan yang sama ia menyampaikan
tentang protokol kesehatan di sektor pendidikan sebab ia sangat memahami kesulitan akses digital di wilayah 3T.

Dengan begitu kemudian, pembukaan sekolah atau pembelajaraan tatap buka diperlukan namun tetap dengan persyaratan ketat yang benar-benar harus diperhatikan.

Baca juga: Tak ada internet pelajar di Sikka sekolah tatap muka di bawah pohon

“Sekali lagi tentang pembukaan tatap muka di zona kuning persyaratannya adalah dengan izin pemda, kesiapan sekolah melaksanakan kegiatan dengan protokol kesehatan, persetujuan orang tua,” katanya.

Sedangkan kurikulum darurat, kata dia, dalam kondisi khusus itu karakteristiknya pasti harus menyesuaikan dengan kemampuan siswa.

“Kedua memfokuskan pada kompetensi esensial dan prasyarat untuk jenjang berikutnya,” katanya.

Baca juga: Pemerintah siapkan regulasi siswa kembali bersekolah

Wiku menambahkan bahwa prinsip yang harus dipegang adalah kesehatan dan keselamatan semua elemen pendidikan, bukan hanya siswa tapi juga guru dan pengelola sekolah.

Hal berikutnya yang juga perlu dipertimbangkan, kata dia, yakni tumbuh kembang peserta didik dan kondisi psikososial yang ada dari peserta didik.

Baca juga: Mendagri: Lakukan simulasi disiplin protokol COVID-19 di sekolah

“Jika terindikasi kondisi tidak aman dan peningkatan risiko yang menetap maka satuan pendidikan wajib untuk ditutup dalam rangka melindungi para siswa,” katanya.

Wiku pun mengatakan bahwa pandemi COVID-19 boleh saja membatasi jarak tapi tidak boleh membatasi diri untuk terus belajar.

Ia meminta semua pihak tetap mematuhi protokol kesehatan sebagai satu hal yang paling utama untuk kondisi saat ini.

Baca juga: Mendikbud: KBM tatap muka pembelajaran paling efektif

 
Pewarta : Hanni Sofia
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020