Riset materi reproduksi hendaknya sesuai kebutuhan remaja disabilitas

Riset materi reproduksi hendaknya sesuai kebutuhan remaja disabilitas

Kepala Pusat Studi Difabilitas (PSD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Munawir Yusuf berbicara dalam webinar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) bertema Bersama Remaja Disabilitas Tingkatkan Program Genre pada Adaptasi Kebiasaan Baru, Jakarta, Rabu (12/8/2020). (ANTARA/Katriana)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Studi Difabilitas (PSD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Munawir Yusuf mengatakan riset terhadap materi pendidikan tentang kesehatan reproduksi penting dilakukan guna menyesuaikan kebutuhan riil bagi remaja penyandang disabilitas.

"Jadi saya kira riset tentang ketahanan remaja disabilitas, tentang kebutuhan materi untuk kesehatan reproduksi perlu dilakukan," kata Munawir Yusuf yang juga Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS di webinar yang diselenggarakan BKKBN bertema Bersama Remaja Disabilitas Tingkatkan Program Genre pada Adaptasi Kebiasaan Baru, Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan bahwa informasi tentang cara menangani permasalahan kesehatan reproduksi yang dihadapi remaja sangat dibutuhkan tidak hanya bagi remaja non disabilitas, tetapi juga bagi remaja penyandang disabilitas.

Sementara itu, remaja penyandang disabilitas juga membutuhkan pendekatan pendidikan yang berbeda sehingga materi yang disampaikan dapat diterima sesuai dengan keterbatasan yang mereka miliki.

Baca juga: BKKBN: GenRe menyiapkan masa depan remaja Indonesia

Baca juga: Yogyakarta berupaya tekan angka pernikahan dini


Untuk itu, selain perlu meriset materi yang sesuai dengan kebutuhan, penyampaian informasi tentang kesehatan reproduksi kepada remaja penyandang disabilitas juga perlu dilakukan dengan cara yang berbeda. Misalnya, kata dia, bisa dilakukan dalam bentuk praktik bagi penyandang tunanetra.

"Misalnya ketika menjelaskan kapan seseorang disebut remaja dan apa saja yang berubah, maka itu bisa ditunjukkan dengan boneka. Dan itu pun juga perlu ada penjelasan yang operasional," katanya.

Riset terhadap materi, kata Munawir, perlu dilakukan agar pembuat materi tidak membuat materi sesuai dengan keinginan sendiri, tetapi juga berbasis pada kebutuhan riil para penyandang disabilitas.

Sementara itu, selain melakukan riset, kerangka atau konsep penguatan bagi ketahanan remaja disabilitas juga, katanya, perlu disusun untuk beberapa tahun ke depan.

"Saya kira BKKBN sudah punya ini untuk remaja yang non disabilitas. Tapi yang disabilitas barangkali perlu kita kembangkan bersama," ujar dia.

Lebih lanjut, Munawir juga menekankan perlunya membuat kampanye atau lomba-lomba inovasi yang dapat diikuti para remaja penyandang disabilitas sehingga mereka termotivasi dan tergerak untuk mengembangkan diri dan turut serta dalam kegiatan yang ada di lingkungan sekitar.

"Misalnya PIK lomba inovasi, PIK misalnya sekarang zamannya teknologi informasi, mungkin bisa diadakan lomba video tentang konseling remaja. Yang pendek-pendek yang bisa dipakai oleh disabilitas. Barangkali bisa dikembangkan secara regional maupun nasional," katanya.

Kemudian, ia juga menyarankan pembuatan forum bagi remaja disabilitas secara nasional yang mungkin bisa dimulai dari penyandang disabilitas di perguruan tinggi.

"Misalnya melalui Jambore. Kemudian di dalam Jambore kita kembangkan lomba inovasi apapun, lomba kreativitas. Dan dari situ mungkin akan menumbuhkan semangat dan percaya diri," demikian kata Munawir.*
Pewarta : Katriana
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020