Kisah penjaga pantang redup dari batas Nusantara

Kisah penjaga pantang redup dari batas Nusantara

Sejumlah petugas mengangkat tiang listrik saat melakukan penyelesaikan program Desa Berlistrik di Provinsi Riau. (ANTARA/HO-PLN UIWRKR)

Jakarta (ANTARA) - Nusantara terbentang luas sepanjang 5.180.053 km persegi, dengan berbagai kearifan dan kepingan bentang alam mempesona di tiap jengkalnya dari barat hingga timur.

Terukir banyak cerita dari sudut satu ke sudut lainnya dalam upaya menjelajah kekayaan alam Nusantara. Satu cerita tersemat atas nama Akbar M. Saputra, pemuda yang bertugas menjaga pasokan listrik di perbatasan timur Indonesia.

Tepatnya, di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sota di Kabupaten Merauke yang berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini.

Berjarak kurang lebih 90 km dari Kota Merauke, PLBN Sota tersebut dipasok dari dua pembangkit listrik yaitu PLTS milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) berkapasitas 100 kWp dan juga PLTD milik PLN berkapasitas 815 kW dengan skema hibrida.

Tidak mudah berada di kawasan perbatasan yang begitu ujung bila ditarik dengan Provinsi terang lainnya. Lelaki tersebut yang bertugas untuk menjaga agar pasokan listrik di Sota terus menyala tanpa meredup. Dengan sepenuh hati, Ia menjaga keandalan sistem kelistrikan di PLBN Sota yang menjadi pintu gerbang Indonesia.

"Saya mendapat tugas di PLBN Sota sudah satu tahun berjalan. Tidak hanya PLBN saja, saya juga tetap melayani pelanggan yang ada di sekitar Sota. Baik suka dan duka dalam menjalani tugas ini pun sering saya hadapi, tetapi kepuasan dari pelanggan ketikan melayani terus kami utamakan,” ujar Akbar.
Baca juga: PLN Merauke kedepankan kerja sama tim jaga kehandalan listrik

Berbagai tantangan dilalui Akbar dalam menjalani tugas keseharian. Batasan akses untuk berkomunikasi adalah sebuah kepastian yang ia dapati sehari-hari. Keadaan lapangan yang cukup ekstrim menjadi cobaan yang harus dilalui dalam mencari terang di timur.

Namun, itu bukan kendala baginya jika hanya untuk mengeluh maka tidak ada ujung, tetapi pekat malam menjadi alasan Akbar untuk tetap menjaga semangat menyalakan lampu bak kunang-kunang yang harus berkedip di tiap titik batasnya.

“Saya merasa bangga dapat tanggung jawab dari PLN ini. Banyak pengalaman yang saya dapatkan selama bertugas disini dan itu menjadi pembelajaran buat saya dan tim. Saya senang, tanah Papua dapat terang seperti wilayah lainnya,” lanjut Akbar.

Cerita Akbar, adalah penggalan sebuah bab yang masih harus dijabarkan oleh pemerintah untuk dapat menyalakan kedip lampu di pelosok lainnya.

Masih dari timur Indonesia, di NTT, menjelang hari kemerdekaan, PLN juga berhasil menyambungkan listrik empat desa di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur, di mana tiga desa terdapat berada di Kabupaten Sumba Barat Daya yaitu Desa Ana Kaka dan Desa Ana Engge, dan Desa Letekonda Selatan dan satu desa di Kabupaten Sumba Timur yaitu Desa Kahiri.

“Untuk melistriki empat desa tersebut, PLN membangun JTM sepanjang 16,1 kms, JTR sepanjang 16,45 kms dan empat unit gardu dengan total kapasitas 400 kVA,” terang General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTT, Agustinus Jatmiko.

Pembangunan listrik untuk menerangi desa-desa di kawasan 3T (Terdepan, Tertinggal dan Terluar) terus diupayakan demi mewujudkan keadilan energi untuk seluruh rakyat Indonesia. Listrik untuk semua.
Baca juga: PGN genjot utilisasi LNG untuk pembangkit listrik

Rasio elektrifikasi

Selang 75 tahun kemerdekaan, Indonesia kini semakin memiliki harapan untuk terang benderang merdeka dari gelap. Jangankan peradaban kota, untuk bisa memancarkan satu titik lampu saja membutuhkan upaya ekstra dari berbagai pihak untuk melistriki negeri.

Satu demi satu wilayah terpencil kini mulai terlistriki oleh PLN. Hingga semester I-2020, rasio elektrifikasi Indonesia telah mencapai 99,09 persen.

Pada kisah lainnya, di Provinsi Riau, delapan desa terpencil kini menikmati aliran listrik PLN, yaitu Desa Sari Mulia, Desa Tanjung Pasir, Desa Sungai Bela, Desa Sungai Buluh, Desa Sungai Laut, Desa Pulau Cawan, dan Desa Air Tawar di Kabupaten Indragiri Hilir dan Desa Cipang Kanan di Kabupaten Rokan Hulu.

Demi melistriki delapan desa tersebut, PLN menggelontorkan dana sebesar Rp75,2 Miliar untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 52 kilometer sirkuit (kms), Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 35,56 KMS dan 20 unit Gardu Distribusi dengan total daya 2.135 kVA.

Gubernur Riau Syamsuar mengaku pembangunan infrastruktur jaringan listrik pada desa-desa di provinsi yang dipimpinnya itu membutuhkan anggaran yang besar.

“Kami sangat mendukung upaya PLN dalam meningkatkan infrastruktur jaringan listrik untuk wilayah di Provinsi Riau. Dengan semangat yang besar program listrik desa harus dituntaskan, kita optimis Program Riau terang tahun 2020 tercapai,” ujar Syamsuar.
Baca juga: PLN terus tingkatkan porsi bauran pembangkit EBT

Sementara itu, General Manager PLN Unit Induk Wilayah Riau dan Kepulauan Riau, Dispriansyah menjelaskan, hingga Agustus 2020 rasio desa berlistrik Provinsi Riau sudah mencapai 99,03 persen dengan 1.842 Desa Berlistrik PLN dari total 1.859 Desa atau Kelurahan.

Rasio desa berlistrik yang sudah mencapai 100 persen yaitu kota Pekanbaru, Dumai, Kabupaten Bengkalis, Kepulauan Meranti, Pelalawan, Indragiri Hulu, Siak, dan Kuantan Singingi. Sedangkan rasio desa berlistrik yang sudah di atas 90 persen adalah Kabupaten Kampar 96 persen dan Indragiri Hilir 96,61 persen.

“Hampir semua sisa desa yang belum teraliri listrik terkendala pada pengiriman peralatan listrik karena harus melalui sungai, bahkan untuk sampai ke jalan desa, petugas harus gotong-royong dengan masyarakat untuk memikul tiang-tiang listrik. Namun tantangan ini menjadi semangat bagi kami untuk melistriki tanah air,“ ujar Dispriansyah.
Baca juga: KemenESDM: Stimulus keringanan listrik dongkrak roda perekonomian

Semangat melistriki tak hanya di Provinsi Riau, di Sulawesi Tengah PLN juga berhasil menghadirkan listrik bagi 473 Kepala Keluarga di beberapa dusun yang berada di Desa Uemanje Dusun Rano, Pobolobia, Rondingo, dan Kayumpia.

Kondisi lapangan yang ekstrim bukan menjadi sebuah alasan dalam melaksanakan kewajiban. Jalan berlumpur, menyeberangi sungai, bahkan menyusuri hutan lebat harus dilewati demi membawa terang hingga ke pelosok negeri.

Untuk melistriki dusun-dusun yang ada di 4 desa tersebut, PLN membangun JTM sepanjang 15 kms, JTR sepanjang 5 kms dan 5 unit Gardu Distribusi dengan total kapasitas mencapai 250 kVA.

“Meskipun menghadapi medan yang sulit, program listrik desa harus tetap berjalan. Yang menjadi semangat dan motivasi kami adalah senyum bahagia masyarakat yang merasakan manfaat listrik di sini,” tutur General Manager PLN Unit Induk Wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo, Leo Basuki.
Baca juga: Nikmati listrik EBT, bukti kemerdekaan di Pulau Saugi Pangkep

Menanggapi capaian tersebut, Wakil Bupati Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, Paulina Lallo memberikan apresiasi kepada PLN yang telah membuat terang Kabupaten Sigi hingga ke pelosok-pelosok.

“Masyarakat dapat menikmati listrik untuk peningkatan kesejahteraan dan perekonomian. Dengan masuknya listrik ini merupakan kebanggaan buat kami dan masyarakat,” imbuh Paulina.

Hingga bulan Juni, rasio elektrifikasi PLN di Sulawesi Tengah telah mencapai 98,21 persen, sementara untuk Rasio Desa Berlistrik sudah mencapai 100 persen.

Momentum kemerdekaan juga menjadi salah satu pelecut untuk dapat bersinergi menerangi tiap sudut Nusantara.

Baca juga: Kemenko Marves siap bantu pengembangan program JOSS PLN NTB

Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2020