Kemensos dorong peningkatan peran anak pada pengurangan risiko bencana

Kemensos dorong peningkatan peran anak pada pengurangan risiko bencana

Seorang ibu korban banjir bandang bersama anaknya menyantap nasi bungkus pemberian relawan di rumah mereka yang sebagian terpendam akibat banjir bandang di Desa Bangga, Dolo Selatan, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (29/4/2019). (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)

Palu (ANTARA) - Kementerian Sosial mendorong peningkatan peran anak dalam pengurangan risiko bencana (PRB), sebagai salah satu upaya melindungi kaum rentan dan menjamin pemenuhan hak anak.

"Anak memiliki persepsi yang berbeda dalam memaknai bencana. Anak harus paham bahwa mereka bukan hanya menjadi korban yang dipandang tidak berdaya, namun anak juga bisa berkontribusi dalam upaya pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi," ucap Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos RI Hary Hikmat pada dialog virtual bertajuk "dengar suara anak yang tinggal di wilayah rawan bencana atau terdampak bencana pandemi COVID-19, diselenggarakan oleh Save The Children atau Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC), Rabu.

Hary Hikmat menerangkan anak memiliki peran dalam pengurangan risiko bencana. Peran meliputi anak adalah calon pemimpin masa depan; kunci bagi setiap perubahan, termasuk perubahan perilaku dalam menyikapi dan menanggapi risiko bencana.

Kemudian, pihak sekolah menerapkan sistem sekolah aman, sistem pembelajaran tentang iklim dan ketahanan dalam menangani risiko bencana, dimana anak belajar asesmen risiko bencana.

Selanjutnya, anak belajar literasi Iklim, kepedulian dan ramah lingkungan dan anak-anak kemudian membagikan informasi mengenai PRB ke lingkungan di sekitarnya.

"Juga dibekali informasi sumber untuk mengakses dukungan terkait dengan penanggulangan bencana," kata dia.

Ia juga menyebut, anak berperan dalam pemanfaatan media sosial dan media elektronik, karena anak-anak familiar dengan teknologi informasi, inovasi, dan sains.
Dengan begitu, anak-anak aset perluasan informasi terkait kesiapan bencana.

Hal itu perlu diikutkan dengan strategi pembangunan berkelanjutan meliputi pembelajaran dan peningkatan keterampilan anak, perubahan perilaku untuk mengurangi emisi gas rumah hijau, promosi gaya hidup diikutkan dengan tidak membuang sampah sembarangan, serta pemetaan struktur sosial di dalam masyarakat.

Strategi ini perlu dilakukan, katanya, karena pengurangan risiko bencana merupakan kegiatan sistematis untuk membantu menyiapkan, memitigasi, mengadaptasi dan meningkatkan ketahanan terhadap dampak dari bencana. Yang mana, bencana memiliki dampak paling besar terutama pada kelompok rentan.

"Anak merupakan bagian dari kelompok rentan itu," sebutnya.

Dialog virtual bertajuk "dengar suara anak yang tinggal di wilayah rawan bencana atau terdampak bencana pandemi COVID-19", diselenggarakan oleh YSTC dalam rangka memperingati hari kemanusiaan se-dunia.

"Dalam peringatan hari kemanusiaan se-dunian, sebagai lembaga kemanusiaan, Save The Children terus berkomitmen dalam melakukan upaya pemenuhan hak anak baik dalam situasi normal maupun situasi darurat. Salah satunya adalah hak anak untuk bisa berpartisipasi. Kami ingin memberikan ruang dialog yang aman dan ramah bagi anak untuk bisa menyampaikan pandangan, pendapat, dan harapan mereka," ungkap Wakil Ketua Dewan Pembina YSTC, Dewi Suharto dalam dialog itu.
 
Pewarta : Muhammad Hajiji
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020