Gempa di Selat Sunda akibat subduksi Lempeng Indo-Australia, kata BMKG

Gempa di Selat Sunda akibat subduksi Lempeng Indo-Australia, kata BMKG

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono saat jumpa pers Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Rabu (10/7/2019). (FOTO ANTARA/Dewanto Samodro)

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan gempa bumi magnitudo 5,1 yang terjadi di Selat Sunda akibat adanya aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam di bawah Lempeng Eurasia.

"Hal tersebut diketahui setelah memerhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya. Gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono melalui keterangan tertulis yang diterima Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut memiliki mekanisme pergerakan sesar naik atau thrust fault.

Akibat gempa tersebut, guncangan dirasakan di daerah Labuan IV Modified Mercalli Intensity (MMI). Guncangan juga dirasakan warga hingga di Pandeglang II MMI.

Hingga saat ini, kata dia, belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Namun, hasil pemodelan menunjukkan gempa tidak berpotensi tsunami.

Sebelumnya gempa tektonik magnitudo 5,2 terjadi pada Rabu (26/8) 2020 pukul 06.27 WIB di wilayah Selat Sunda. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa memiliki parameter terbaru magnitudo magnitudo 5,1.

Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 6,75 lintang selatan (LS) dan 104,56 bujur timur (BT) atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 141 kilometer arah Selatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Lampung di kedalaman 43 kilometer.

Hingga pukul 06.54 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Kemudian warga diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa.

"Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal Anda cukup tahan gempa ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah," demikian Rahmat Triyono.

Baca juga: BMKG terus monitor rentetan gempa di Selat Sunda

Baca juga: BMKG tegaskan gempa di Selat Sunda tak berpotensi tsunami

Baca juga: Mewaspadai potensi gempa besar Selat Sunda

Baca juga: Gempa beruntun di Selat Sunda tidak berpotensi tsunami
Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020