Anggota Komisi VI minta Pertamina tingkatkan TKDN dan tekan impor

Anggota Komisi VI minta Pertamina tingkatkan TKDN dan tekan impor

Tim PT Pertamina EP melakukan diskusi saat survei seismik tiga dimensi 3D X-Ray Marine Nodal dalam rangka menemukan cadangan migas di perairan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. ANTARA/HO-Pertamina EP

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VI DPR RI Deddy Yevri Sitorus meminta Pertamina meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan menekan impor yang memerlukan dolar besar di masa yang dinilai sulit saat ini.

“Restrukturisasi korporasi yang baru dilakukan oleh Pertamina seharusnya juga berdampak pada restrukturisasi bisnis secara keseluruhan dan secara terintegrasi,” kata Deddy lewat keterangannya diterima di Jakarta, Kamis.

Deddy menyampaikan, meskipun mengalami kerugian, Pertamina diminta tetap meneruskan tugas-tugas konstitusionalnya melayani rakyat melalui ketersediaan energi.

Menurut Deddy, kerugian yang dialami Pertamina pada Semester I 2020 sebagai hal wajar, mengingat semua perusahaan minyak berskala global di dunia mengalami hal yang sama akibat pandemi COVID-19.

Baca juga: Pengamat : Rencana IPO Pertamina harus dikaji ulang

Sepanjang Semester I/2020, lanjut Deddy, ekonomi dunia, tanpa terkecuali Indonesia, mengalami penurunan sangat tajam yang berimbas kepada volume penjualan di sektor industri dan retail.

“Kerugian Pertamina juga disebabkan oleh penuruan dan fluktuasi nilai tukar dan harga minyak mentah dunia juga menyumbang terhadap kerugian. Pertamina juga mengalami tekanan akibat kinerja lifting minyak ladang-ladang minyak yang terus mengalami penurunan produksi,” ujar Deddy.

Oleh karena itu, Deddy meminta Pertamina agar terus melakukan efisiensi dalam belanja modal dan belanja operasional perusahaan secara signifikan, jika perlu segera melakukan renegosiasi kontrak-kontrak yang ada untuk menekan biaya dan memelihara arus kas.

Baca juga: Ombudsman: Pernyataan Komut Pertamina berpotensi maladministrasi

Menurut laporan keuangan Pertamina semester I 2020, disebutkan BUMN itu mencatatkan rugi bersih sebesar 767,92 juta dolar AS atau sekitar Rp11,4 triliun (asumsi kurs Rp 14.800/dolar).

Kerugian tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya yaitu penurunan tajam permintaan BBM sepanjang pandemi sehingga pendapatan anjlok 19,81 persen secara tahunan atau year on year (yoy) dari 24,54 miliar dolar AS pada semester I tahun lalu menjadi 20,48 miliar dolar AS.

Selain itu, juga pergerakan nilai tukar dolar yang cukup signifikan sehingga Pertamina mengalami kerugian kurs mencapai 211 juta dolar AS.

 

Pewarta : Sella Panduarsa Gareta
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020