Musi Banyuasin mulai operasikan pabrik aspal karet

Musi Banyuasin mulai operasikan pabrik aspal karet

Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex menginspeksi jalan di Sekayu yang menggunakan aspal karet. (ANTARA/HO/20)

Palembang (ANTARA) - Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan mulai mengoperasikan pabrik aspal karet di Sekayu pada pekan ini dengan menyerap produksi petani setempat dalam bentuk lateks padat untuk menjadi campuran aspal hotmix.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kabupaten Muba Herman Mayori di Sekayu, Senin, mengatakan pembelian karet ini dilakukan di Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB).

“Pabrik ini mengolah lateks padat menjadi bahan campuran aspal hotmix,” kata dia.

Baca juga: Menteri PUPR tegaskan pembelian karet untuk aspal langsung dari petani

Pengumpulan bahan dasar ini sudah dilakukan sejak pekan lalu di Kecamatan Sungai Lilin dengan peserta lelang diantaranya Kementerian PUPR.

Komposisi aspal karet terdiri atas karet alam sebesar 0,42 persen, aspal minyak 5,58 persen, dan agregat kasar dan halus sebesar 94 persen atau pemanfaatan karet alam adalah 7 persen dari kadar aspal.

“Dengan ada pabrik sendiri ini, Muba berharap dapat menjadi penyuplai kebutuhan aspal karet di Tanah Air, karena sejauh hanya pabrik kami yang operasional,” kata dia

Plt Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Muba Akhmad Toyibir mengatakan penyerapan dalam negeri berupa aspal karet ini diharapkan dapat mendongkrak harga di tingkat petani di tengah anjloknya harga di pasar internasional.

Ia mengatakan sejauh ini Muba menjadi kabupaten dengan jumlah UPPB terbanyak di Sumsel yakni 80 unit yang sudah teregistrasi. Harga jual di UPPB ini dinyakini jauh lebih baik jika dibandingkan petani menjual ke tengkulak.

“Bahkan kami sedang merancang sistem pelelangan di UPPB menggunakan sistem digital yakni satu penawar memiliki satu user ID,” kata dia.

Saat ini Pemkab gencar mengedukasi petani untuk menjual lateks padat dibadingkan hanya sebatas mengolah menjadi bahan olahan karet (bokar).

Ia mengatakan harga lateks padat jauh lebih tinggi dibandingkan bokar yakni dengan selisih Rp6.000/Kg. Jika bokar hanya dibandrol Rp9.000 per kilogram sedangkan lateks padat bisa menembus Rp16.000 per kilogram.

Untuk membuat petani karet di Muba mau beralih, Pemkab menstimulus dengan memberikan mesin sentrifuge di Desa Cipta Praja, Kecamatan Sungai Lilin pada akhir Oktober mendatang.

"Tantangan bagi para tani merubah pola prilaku pengolahan karet karena lateks kebun harus dipertahankan tingkat kecairannya oleh petani, kemudian dibawa ke UPPB utk diolah di mesin sentrifuge hingga jadi lateks pekat,” kata dia.

Sejauh ini, sebagian besar karet petani Muba diolah oleh pabrik crum rubber menjadi sir 20 yang 70 persennya digunakan untuk industri ban dan sisanya untuk industri lain seperti suku cadang, busa, sandal , sepatu, bantalan dan lain lain.

Sedangkan khusus untuk aspal karet, Muba yang masuk ke dalam Satker Wilayah 1 mendapatkan alokasikan Rp5,2 miliar untuk pembelian karet rakyat melalui lelang karet di UPPB yang diikuti Kemen PUPR.

Baca juga: Menteri PUPR: Aspal karet alam tingkatkan kualitas dan ketahanan jalan
Baca juga: Musi Banyuasin bangun pabrik pengolahan aspal karet

 
Pewarta : Dolly Rosana
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020