LIPI: Tingkatkan kualitas peneliti dengan metode riset digital

LIPI: Tingkatkan kualitas peneliti dengan metode riset digital

Logo LIPI (FOTO ANTARA)

Jakarta (ANTARA) - Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bahtiar Rifai mengatakan pentingnya peningkatan kapasitas atau "soft skills" sumber daya manusia (SDM) peneliti dalam menggunakan metode riset digital dalam melakukan kegiatan riset di masa pandemi COVID-19.

"Belum terbangun dengan baik pemahaman dan pengalaman dalam menggunakan instrumen riset digital sehingga membutuhkan penguatan "softskills" metode digital bagi peneliti sosial humaniora," kata peneliti dari Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Bahtiar dalam seminar virtual "Talk to Scientists: Transformasi Metode Digital untuk Penelitian Sosial dan Humaniora di Masa Pandemi COVID-19”, Jakarta, Senin.

Bahtiar menuturkan para peneliti sosial humaniora harus memahami esensi metode digital dalam penelitian, memiliki pengetahuan jenis-jenis metode digital, memahami karakter sumber data, memilih metode digital sesuai tujuan riset dan mengoperasionalkan metode digital.

Sumber data digital bisa berupa media sosial, data berita dalam jaringan, pergerakan manusia, iklim, cuaca, transaksi dalam jaringan (e-commerce), publikasi ilmiah, dan data institusional.

Bahtiar mengatakan rasa enggan juga menjadi salah satu kendala dalam transformasi metode riset digital di Indonesia. Sebagian peneliti sosial humaniora masih merasa enggan menggunakan metode digital dan menganggap metode itu sebagai ranah teknologi informasi, ilmuwan data, ilmu komputer, dan bukan ranah sosial humaniora.

Baca juga: Peneliti: Perlu penguatan infrastruktur riset digital di masa pandemi

Baca juga: LIPI: Metode digital untuk riset harus didukung akses internet


Apalagi muncul dilema epistemologi terkait apakah fenomena digital mampu menggambarkan kondisi sosial humaniora sebenarnya selayaknya metode pengumpulan data melalui tatap muka secara langsung. Itu memunculkan kegamangan di antara beberapa peneliti untuk menggunakan metode digital.

"Lalu pada saat menggunakan metode digital asumsi apa yang dibangun dan kaidah seperti apa menggunakan metode digital? Ini belum berkembang di Indonesia," tuturnya.

Oleh karenanya, harus dilakukan penguatan "soft skills" dan peningkatan pemahaman peneliti untuk menggunakan metode berbasis digital dalam melakukan kegiatan riset di masa pandemi dengan memperhatikan kaidah akademis atau ilmiah, etika penelitian dan kualitas riset.

Bahtiar juga menuturkan perlunya penguatan kolaborasi antara peneliti sosial humaniora dengan ilmuwan data.

Di masa pandemi, ada keterbatasan dalam melakukan pengumpulan dan pengolahan data melalui tatap muka secara langsung. Untuk itu, metode berbasis digital menjadi bentuk adaptasi dalam melakukan penelitian di tengah pandemi.

Bahtiar mengatakan metode digital telah menjadi standar riset global termasuk oleh 100 universitas terbaik di dunia, artikel-artikel ilmiah berbasis digital dan jurnal internasional.

Namun, menurut Bahtiar, metode riset berbasis digital tidak menggantikan peran metode konvensional namun melengkapi dan menjadi adaptasi terbaik untuk penelitian sosial humaniora di tengah pandemi.

"Metode riset digital menjadi adaptasi terbaik, yang menjembatani antara peneliti dan objek riset serta keselamatan keduanya," ujar Bahtiar.

Bahtiar mengatakan konsep metode digital adalah pendekatan penelitian untuk mengumpulkan data baik primer maupun sekunder tanpa melakukan interaksi tatap muka namun berbasis teknologi informasi dalam jaringan internet dengan menggunakan sarana komunikasi seperti komputer, ipad/tablet dan telepon pintar, yang selanjutnya dapat diproses otomatisasi dengan bahasa pemrograman serta visualisasi secara digital.

Baca juga: LIPI: Metode digital jadi alternatif terbaik dukung riset saat pandemi
 
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020