Indikator daya beli pembudidaya meningkat, KKP: Arah kebijakan tepat

Indikator daya beli pembudidaya meningkat, KKP: Arah kebijakan tepat

Ilustrasi - Lobster hijau, salah satu komoditas yang digenjot untuk menambah devisa dari ekspor sektor kelautan dan perikanan nasional. ANTARA/HO-Dokumentasi KKP

Jakarta (ANTARA) - Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto mengapresiasi meningkatnya nilai tukar pembudidaya ikan (NTPi) yang merupakan salah satu indikator dari daya beli pembudidaya di Nusantara, sehingga arah kebijakan dinilai berada di arah tepat.

"Saya kira ini dampak nyata bahwa berbagai stimulus langsung secara nyata berdampak pada efisiensi usaha, nilai tambah dan daya beli para pembudidaya ikan," kata Slamet Soebjakto dalam siaran pers di Jakarta, Jumat.

Menurut Slamet, hal tersebut juga sejalan dengan tujuan utama yakni menjamin daya beli masyarakat tetap terjaga positif.

Baca juga: BPS: Nilai Tukar Petani Agustus 2020 naik 0,56 persen

 BPS merilis data kinerja ekonomi bulan Agustus 2020 atau tepatnya periode akhir kuartal II. Dalam rillis tersebut, BPS mencatat capaian kinerja positif khususnya menyangkut NTPi yang kembali stabil di angka lebih dari 100.

Bulan Agustus tercatat NTPi naik 0,19 poin dari bulan Juli yakni dari 100,40 menjadi 100, 59. Angka NTPi menjadi salah satu indikator utama adanya perbaikan daya beli masyarakat.

Angka nilai tukar usaha pembudidaya ikan (NTUPi) juga tercatat naik 0,03 poin yakni dari 100,77 di bulan Juli menjadi 100,80. Angka ini mengindikasikan ada perbaikan pada efisiensi produksi budidaya, sehingga ada penambahan nilai tambah margin keuntungan.

Baca juga: KKP ingin jutaan pembudidaya ikan tersertifikasi

Sebelumnya di kuartal I, wabah pandemi COVID-19 telah menyebabkan rantai pasok produk perikanan budidaya terhambat yang menyebabkan indeks harga komoditas anjlok di tingkat pembudidaya ikan, dan menyebabkan NTPi turun lebih dalam.

Slamet berpendapat bahwa capaian NTPi yang dirilis BPS merupakan kabar baik di tengah pandemi yang masih melanda, serta capaian tersebut dinilai merupakan dampak dari berbagai program stimulus langsung yang terus digelontorkan pemerintah.

Ia juga mengutarakan, saat sektor lain sedang terpuruk, justru sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menunjukkan adanya tren yang mulai positif.

"Ini saatnya sub sektor perikanan budidaya jadi ujung tombak dan bahkan menjadi tali penyelamat dari kemungkinan resesi ekonomi. Daya beli yang tetap terjaga baik, akan meningkatkan pengeluaran konsumsi rumah tangga masyarakat dan ini baik untuk mengungkit PDB Indonesia," ucapnya.

Baca juga: Dukung pertumbuhan ekonomi, KKP jaga daya beli pembudidaya ikan

KKP melakukan berbagai upaya dalam rangka menjaga daya beli pembudidaya di berbagai daerah guna membantu pertumbuhan ekonomi yang saat ini dalam kondisi kontraksi akibat dari dampak pandemi terhadap perekonomian nasional.

"Dukungan langsung berupa input produksi khususnya pakan dan benih sangat krusial dilakukan," kata Slamet Soebjakto.

Menurut Slamet, hal tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menstimulus agar dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan pembudidaya ikan naik berdasarkan nilai tukar pembudidaya ikan yang merupakan indikator kemampuan daya beli masyarakat pembudidaya ikan.

Dirjen Perikanan Budidaya menyatakan bahwa bila daya beli pembudidaya ikut terkerek naik maka secara langsung juga akan bisa menopang PDB Indonesia.

"Ekonomi Indonesia di kuartal II ini sedang tertekan atau terkontraksi sekitar 5 persen. Oleh karenanya, saya ingin memastikan bahwa KKP akan selalu hadir dan berupaya bagaimana pembudidaya ini daya belinya tetap terjaga di masa pandemi COVID-19," jelas Slamet.
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020