Selandia Baru siap bantu Indonesia perkuat industri energi panas bumi

Selandia Baru siap bantu Indonesia perkuat industri energi panas bumi

Salah satu Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Jawa Barat, yang dioperasikan PT PLN (Persero). ANTARA/Kelik Dewanto

Jakarta (ANTARA) - Selandia Baru menyampaikan pihaknya siap membantu Indonesia menguatkan industri panas bumi dalam negeri yang salah satunya terwujud dalam Rencana Aksi Kemitraan Komprehensif Indonesia-Selandia Baru 2020-2024.

Pernyataan itu disampaikan oleh kantor dagang dan usaha Selandia Baru (NZTE) melalui pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu.

“Rencana aksi itu berisi kesepakatan memperbarui fokus terhadap prioritas kerja sama bilateral, termasuk di bidang energi terbarukan, dan mengeksplorasi peluang baru,” terang NZTE.

NZTE merupakan lembaga pemerintah yang bertugas membantu menghubungkan perusahaan di Selandia Baru dengan investor di berbagai negara. Di Indonesia, NZTE membangun kemitraan dengan ragam pemangku kepentingan dan menyediakan berbagai informasi serta jejaring terkait investasi.

Baca juga: Ini strategi pemerintah untuk percepat pengembangan panas bumi
Baca juga: ADB setujui pinjaman 300 juta dolar AS untuk pembangkit panas bumi

Tidak hanya rencana aksi, pemerintah dan pelaku usaha di Selandia Baru juga aktif berpartisipasi dalam berbagai forum dan temu bisnis terkait industri panas bumi di Indonesia, salah satunya Digital Indonesia International Geothermal Convention (DIIGC) 2020, yang akan diadakan secara virtual pada 8 September 2020.

Komisaris Perdagangan Selandia Baru untuk Indonesia, Diana Permana, menyampaikan Menteri Perdagangan dan Pertumbuhan Ekspor Selandia Baru, David Parker memastikan kehadirannya dalam acara temu bisnis itu.

“Menteri Perdagangan dan Pertumbuhan Ekspor David Parker akan menyampaikan strategi menghadapi tantangan akibat COVID-19 serta menegaskan peran penting pemulihan ekonomi rendah emisi dan tangguh terhadap perubahan iklim melalui penerapan kebijakan dan teknologi ramah lingkungan seperti pengembangan energi terbarukan di salah satu sesi DIIGC 2020,” terang Diana sebagaimana dikutip dalam siaran tertulis NZTE.

DIIGC 2020 merupakan pengganti Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE), acara tahunan yang diadakan oleh Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API/INAGA).

Penyelenggaraan pertemuan digital pada tahun ini berlangsung sejak 1 September dan akan berakhir pada 10 September 2020.

“Pertemuan itu akan membuka kesempatan peninjauan prioritas kerja sama bilateral, termasuk di sektor energi terbarukan, dan peningkatan potensi kolaborasi kedua negara,” terang NZTE.

Di samping partisipasi aktif di forum energi dalam negeri, Selandia Baru juga mendukung pengembangan sumber daya panas bumi di Indonesia melalui program pelatihan dan pemberdayaan sumber daya manusia, serta kerja sama dagang.

“Selandia Baru juga membantu pelaksanaan evaluasi potensi sejumlah proyek panas bumi agar program eksplorasi selanjutnya berlangsung efektif,” sebut NZTE seraya menambahkan pihaknya juga akan membantu Indonesia mewujudkan peta jalan pengembangan panas bumi dan energi bersih di Indonesia.

Ragam bantuan dan pendampingan itu dapat terwujud karena sektor energi terbarukan mendapat alokasi dana terbesar dalam Program Bantuan Selandia Baru untuk Indonesia. Data New Zealand-Indonesia Joint Commitment for Development untuk 2017-2022 menunjukkan Selandia Baru berencana mengucurkan 30 juta dolar Selandia Baru (sekitar Rp296,8 miliar) dalam bentuk pelatihan dan pendampingan teknis.

Baca juga: API-Kementerian ESDM akan gelar pameran virtual panas bumi September
Baca juga: Asosiasi apresiasi strategi "government driling" di bidang panas bumi

Pewarta : Genta Tenri Mawangi
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020