Pembatasan akibat corona dapat hambat musim liburan utama di Korsel

Pembatasan akibat corona dapat hambat musim liburan utama di Korsel

Para karyawan dari sebuah perusahaan layanan desinfeksi membersihkan stasiun subway di tengah ketakutan virus corona (COVID-19) di Seoul, Korea Selatan, Rabu (11/3/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Heo Ran/aww.

Seoul (ANTARA) - Korea Selatan pada Senin melaporkan penghitungan terendah kasus COVID-19 dalam lebih dari tiga pekan, tetapi para pejabat sedang mempertimbangkan keperluan untuk memperpanjang pembatasan jarak sosial menjelang salah satu liburan terbesar di negara itu bulan ini.

Kasus harian COVID-19 Korsel telah menurun terus sejak puncaknya pada akhir Agustus yang mencapai lebih dari 400 kasus.

Pada tengah malam hari Minggu, dilaporkan 119 lebih kasus baru yang membuat total kasus COVID-19 Korsel menjadi 21.296, dengan 336 kematian, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan.

Pihak berwenang menghentikan langkah penguncian secara luas dalam upaya untuk mencegah kerusakan ekonomi. Namun, langkah-langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya, seperti pembatasan pembukaan kedai kopi dan restoran serta penggunaan wajib masker di tempat umum, telah diperpanjang di daerah Seoul hingga Minggu.

Pembatasan sosial skala nasional yang sedikit lebih longgar berlaku hingga setidaknya 20 September, tetapi pihak berwenang mengatakan mungkin akan memperpanjangnya selama liburan Chuseok, yakni dari 30 September hingga 4 Oktober.

Chuseok adalah salah satu hari libur terbesar di Korea Selatan, tetapi pihak berwenang melarang kegiatan kunjungan tradisional untuk bertemu kerabat atau berkumpul di area pemakaman keluarga.

"Kami mendesak anda untuk menahan diri agar tidak mengunjungi kampung halaman dan kerabat, jika mungkin, pada hari perayaan Chuseok. Hal ini untuk melindungi kesehatan Anda dan keluarga Anda," kata pejabat kementerian kesehatan Yoon Tae-ho dalam sebuah pengarahan.

Langkah-langkah yang dipertimbangkan oleh otoritas Korsel adalah larangan pertemuan lebih dari 50 orang di dalam ruangan dan 100 orang di luar ruangan, larangan adanya penonton di pertandingan olahraga, serta permintaan agar warga dapat bekerja pada jam-jam tertentu atau dari rumah.

Sementara itu, ribuan dokter magang di Korsel tampaknya akan mengakhiri aksi mogok kerja selama dua minggu, yang dilakukan untuk mendorong reformasi layanan kesehatan oleh pemerintah, setelah mereka setuju untuk kembali bekerja mulai Selasa.

Sebuah kelompok yang mewakili para dokter magang, yang telah bersedia untuk mengakhiri aksi mogok setelah perjanjian dengan pemerintah pekan lalu, mengatakan mereka akan kembali bekerja pada Selasa, tetapi memperingatkan akan aksi protes lebih lanjut kecuali pemerintah menawarkan konsesi dalam dua pekan.

Pemerintah Korsel telah setuju untuk menunda langkah-langkah pencegahan wabah di masa depan sampai setelah krisis virus corona berlalu. Namun, menurut para dokter, jumlah kasus COVID-19 hanya akan semakin membengkak di kota-kota tanpa adanya peningkatan layanan medis di pedesaan.

Pada Senin, kementerian kesehatan mengatakan akan beralih ke dokter militer untuk menutupi kekurangan dokter magang dan dokter setempat baru setelah beberapa mahasiswa kedokteran menolak untuk mengikuti ujian akhir perizinan profesi dokter sebagai bagian dari protes terhadap pemerintah.

Sumber: Reuters
Baca juga: Kasus melonjak, dokter Korsel diperkirakan akan hentikan pemogokan
Baca juga: Pasien lansia penyebab lonjakan kasus COVID-19 di Korea Selatan
Baca juga: Kasus corona turun, Korsel longgarkan pembatasan sosial
Pewarta : Yuni Arisandy Sinaga
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2020