Korsel laporkan peningkatan kasus COVID-19 klaster agama dan olahraga

Korsel laporkan peningkatan kasus COVID-19 klaster agama dan olahraga

Seorang wanita menjalani tes penyakit coronavirus (COVID-19) di sebuah klinik darurat di Seoul, Korea Selatan (26/8/2020). ANTARA/REUTERS/Kim Hong-Ji/aa. (REUTERS/KIM HONG-JI)

Seoul (ANTARA) -

Korea Selatan melaporkan peningkatan kasus virus corona harian pada Jumat, ketika infeksi dari gereja dan demonstrasi politik yang memicu gelombang kedua wabah mereda dan kasus baru muncul di kelompok agama, olahraga serta rumah sakit universitas.


Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) melaporkan 176 kasus baru pada tengah malam Kamis, yang membuat jumlah total infeksi menjadi 21.919, dengan 350 kematian.

Gelombang baru infeksi yang terjadi di sebuah gereja yang anggotanya menghadiri protes besar di pusat Seoul bulan lalu telah mendorong penghitungan harian ke puncaknya dalam beberapa bulan dengan 441 kasus.

Jumlahnya terus turun ke level 100-an sejak pemerintah memberlakukan pembatasan jarak sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya akhir bulan lalu, dengan kurang dari 10 kasus ditelusuri ke gereja dan pengunjuk rasa selama beberapa hari terakhir.

Tapi minggu ini terjadi kebangkitan baru ketika klaster yang lebih kecil terus bermunculan dari pertemuan keagamaan, kantor, dan fasilitas medis lainnya di wilayah metropolitan Seoul. Lebih dari 72% dari 161 kasus yang ditularkan secara lokal sejak Kamis dilaporkan berasal dari klaster-klaster itu.

Di antara klaster tersebut adalah klub hiking dengan setidaknya 35 kasus dikonfirmasi sejauh ini, dan rumah sakit universitas besar di pusat Kota Seoul di mana 19 orang telah terinfeksi minggu ini di sekitar bangsal rehabilitasi dan tim nutrisi, menurut data KCDC.

Perdana Menteri Chung Sye-kyun mengatakan wabah yang konsisten memperdalam kekhawatiran saat pemerintah akan memutuskan apakah akan memperpanjang pembatasan jarak sosial pada Minggu.

Pembatasan itu termasuk larangan makan malam di tempat di Seoul yang lebih luas.

"Mencabut pembatasan adalah hal yang tepat, mengingat pengorbanan yang dilakukan orang-orang, tetapi kami sangat khawatir jika pelonggaran yang tergesa-gesa akan menyebabkan penyebaran kembali virus dan menyebabkan kerugian yang lebih besar bagi publik," kata Chung dalam sebuah pertemuan.

Otoritas kesehatan memperingatkan terhadap pertemuan besar setelah beberapa kelompok yang mengatur demonstrasi politik bulan lalu berusaha untuk menggelar protes lain bulan depan.

Lebih dari 1.700 kasus telah dikaitkan dengan sebuah gereja dan unjuk rasa, yang merupakan klaster terbesar kedua di negara itu sejak epidemi pertama kali muncul pada Januari.

"Jika kelompok-kelompok itu terus melanjutkan protes, pemerintah akan mengambil langkah cepat untuk membubarkan mereka ... dan secara tegas menanggapi setiap kegiatan ilegal berdasarkan prinsip penangkapan di tempat," kata Yoon Tae-ho, direktur- umum untuk kebijakan kesehatan masyarakat di kementerian kesehatan.

Baca juga: Kasus melonjak, dokter Korsel diperkirakan akan hentikan pemogokan

Baca juga: Diplomat China akan kunjungi Korsel bahas soal Korut dan corona

Pewarta : Gusti Nur Cahya Aryani
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020