Kapasitas terpasang PLTS atap melonjak sembilan kali lipat

Kapasitas terpasang PLTS atap melonjak sembilan kali lipat

Ilustrasi: Siswa SMK bersiap memasang panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya di atap gedung SMK Prakarya Internasional di Bandung, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa) (Antaranews.com) (Antaranews.com/)

Jakarta (ANTARA) - Perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap  PT Xurya Daya Indonesia (Xurya) mengatakan kapasitas terpasang panel surya saat ini melonjak sembilan kali lipat dibanding tahun 2019.

Managing Director Xurya Eka Himawan dalam diskusi virtual di Jakarta, Rabu, mengatakan, tahun lalu telah mengumumkan 14 perusahaan yang menyatakan dukungannya terhadap penggunaan PLTS atap.

"Tahun ini kapasitas terpasang PLTS Atap oleh Xurya mengalami kenaikan hingga 9 kali lipat. Kami selalu berkomitmen dalam mendukung GNSSA (Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap). Salah satunya dengan memberikan layanan purna jual perawatan panel surya secara gratis kepada pelanggan untuk memastikan panel surya selalu dalam keadaan bersih dan tidak ada kerusakan, sehingga kinerjanya lebih aman dan efisien," katanya.

Baca juga: PLTS Atap dibangun di kawasan industri, dukung implementasi EBT

Setelah tahun lalu 14 pebisnis Indonesia menyatakan dukungannya pada Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap, kini PT Xurya Daya Indonesia (Xurya) sebagai startup energi
baru dan terbarukan (EBT) yang mempelopori metode Rp 0 dalam pembiayaan PLTS Atap berhasil menambah daftar perusahaan yang menggunakan PLTS Atap.

Bersama Xurya, saat ini Softex Indonesia sedang menyelesaikan proyek pembangunan PLTS Atap sebesar 630 kWp di pabriknya yang berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur.
Penggunaan PLTS Atap ini juga sebagai bentuk implementasi Softex Indonesia dalam menjalankan bisnis yang berkelanjutan.

"Kalau dikonversikan, melalui pemasangan PLTS Atap ini kami akan menghemat kurang lebih 887.922 kWh setiap tahunnya dan menekan produksi CO2 sebesar 829.319
kg selama satu tahun,” ujar Sustainability Project Leader PT Softex Indonesia, Honey Liwe.

GNSSA yang dideklarasikan oleh Kementerian ESDM bersama para penggiat energi surya pada September 2017, merupakan gerakan untuk mendukung dan mempercepat pemanfaatan teknologi listrik surya untuk memenuhi target pengembangan energi terbarukan yang telah ditetapkan oleh Kebijakan Energi Nasional (KEN) sebesar 23 persen dari total bauran energi primer pada 2025.

Baca juga: Industri PLTS Atap mulai sasar pasar luar Jawa

PLTS diharapkan berkontribusi sebesar 14 persen atau 6,4 GW dari total kapasitas 45 GW pembangkit listrik.

Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Andhika Prastawa mengatakan, pada tahun ketiga GNSSA, AESI melihat mulai tumbuh percepatan pemanfaatan listrik surya, namun masih ada peluang untuk ditingkatkan lagi.

Pada tahun 2017 ketika GNSSA dibentuk, kapasitas PLTS atap yang terdaftar pada PLN baru sekitar 600 kW. Tahun ini kapasitasnya telah naik menjadi 7500 kW.

"Sangat dibutuhkan kolaborasi yang lebih intensif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, PT. PLN (Persero), investor, pelaku bisnis seperti yang dilakukan oleh Softex Indonesia dan perseorangan, agar tingkat pemanfaatan teknologi listrik surya dapat tumbuh seiring dengan ketetapan capaian bauran energi terbarukan dalam Kebijakan Energi Nasional yaitu 23 persen pada 2025," kata Andhika.

Baca juga: PLTS Atap alternatif saat konsumsi listrik meningkat
Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020