Harga minyak melonjak, terkerek ancaman OPEC soal pangkas produksi

Harga minyak melonjak, terkerek ancaman OPEC soal pangkas produksi

Dokumentasi - Ladang minyak Equinor di Johan Sverdrup, Laut Utara Norwegia (22/8/2018). REUTERS/Nerijus Adomaitis/aa.

New York (ANTARA) - Harga minyak melonjak pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), berbalik positif ketika OPEC dan sekutunya mengatakan kelompok produsen itu akan menindak negara-negara yang gagal mematuhi pemotongan produksi dan berencana mengadakan pertemuan luar biasa pada Oktober jika pasar minyak melemah lebih lanjut.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November memperpanjang kenaikannya, terangkat 1,08 dolar AS atau 2,56 persen, menjadi menetap di 43,30 dolar AS per barel. Harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan Oktober menguat 81 sen, atau 2,02 persen pada 40,97 dolar AS per barel.

Kedua kontrak tersebut naik lebih dari empat persen pada perdagangan Rabu (16/9/2020).

Baca juga: Harga emas anjlok 20,6 dolar, terseret aksi ambil untung

Setelah jatuh di awal sesi di tengah angka pekerjaan yang bearish dan peningkatan produksi minyak Teluk Meksiko setelah Badai Sally, patokan minyak mentah berbalik arah menguat pada sesi tersebut, didukung oleh pernyataan-pernyataan dari OPEC.

“Meskipun tidak ada amandemen kesepakatan pemotongan pasokan saat ini yang telah diusulkan oleh OPEC+ hari ini, kelompok produsen memberi kesan bahwa mereka tidak menutupi masalah,” kata Kepala Pasar Minyak Rystad Energy, Bjornar Tonhaugen.

Panel produsen-produsen utama, termasuk Arab Saudi dan Rusia, tidak merekomendasikan perubahan apa pun pada target pengurangan produksi mereka saat ini sebesar 7,7 juta barel per hari (bph), atau sekitar delapan persen dari permintaan global, menurut draf siaran pers dan laporan internal.

Baca juga: Saham Spanyol setop keuntungan, Indeks IBEX 35 merosot 0,35 persen

Panel menekan negara-negara yang terlambat seperti Irak, Nigeria dan Uni Emirat Arab untuk memotong lebih banyak barel guna mengkompensasi kelebihan produksi pada Mei-Juli, sambil memperpanjang periode kompensasi dari September hingga akhir Desember, menurut tiga sumber OPEC+.

"Mereka turun tajam di UEA," kata Analis Senior Price Futures Group, Phil Flynn, di New York. Harapan bahwa produksi bisa turun karena UEA dan lainnya memangkas produksi telah mendorong harga, katanya.

Baca juga: Saham Inggris turun lagi, Indeks FTSE 100 merosot 0,47 persen

Berita OPEC membayangi dimulainya kembali produksi lepas pantai AS setelah Badai Sally melewati Teluk Meksiko dan berita ekonomi AS yang bearish.

Perusahaan-perusahaan energi AS mulai mengembalikan awaknya ke anjungan minyak lepas pantai di Teluk Meksiko setelah Badai Sally menghentikan operasinya selama lima hari, mematikan produksi hampir 500.000 barel per hari.

Baca juga: Saham Jerman berbalik merosot, Indeks DAX 30 tergerus 0,36 persen

Harga juga berada di bawah tekanan dari pemulihan ekonomi yang lambat dari pandemi. Kasus Virus Corona global diperkirakan akan melampaui 30 juta pada Kamis, menurut penghitungan Reuters.

Laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran turun minggu lalu, tetapi tetap pada level yang sangat tinggi karena pemulihan pasar tenaga kerja bergeser ke kecepatan rendah dan belanja konsumen mendingin.

Bahkan OPEC+ memperingatkan bahwa pandemi dapat terus mengekang permintaan. Panel teknis OPEC+ memperingatkan bahwa kenaikan kasus virus corona di beberapa negara dapat membatasi permintaan minyak meskipun ada tanda-tanda pemulihan ekonomi dan indikasi awal penurunan stok minyak, menurut dokumen internal yang dilihat oleh Reuters.

Baca juga: Saham Prancis hentikan kenaikan, Indeks CAC 40 jatuh 0,69 persen
Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020