Trump akan ajukan perempuan sebagai penerus Ginsburg di MA

Trump akan ajukan perempuan  sebagai penerus Ginsburg di MA

Presiden AS Donald Trump menjawab pertanyaan pada konferensi pers di Gedung Putih di Washington, Amerika Serikat, Jumat (4/9/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Leah Millis/PRAS/djo

Fayetteville/Washington (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Sabtu akan mengajukan seorang  perempuan untuk menjabat di Mahkamah Agung AS, langkah yang akan membuat pengadilan semakin condong ke kanan usai meninggalnya Ruth Bader Ginsburg yang berideologi liberal.

"Saya akan mengajukan seorang kandidat pekan depan. Seorang perempuan," ucap Trump saat melakukan kampanye di kota Fayetteville di negara bagian North Carolina. "Saya rasa (kandidat) harus seorang perempuan karena sebenarnya saya lebih menyukai perempuan daripada laki-laki," ujarnya.

Saat Trump menyampaikan orasi, para pendukung berteriak "Isi jabatan itu."

Dia menyebut Ginsburg sebagai "raksasa hukum... Keputusan-keputusannya yang fenomenal, pengabdiannya luar biasa  bagi keadilan dan perjuangannya yang berani melawan kanker menginspirasi semua orang Amerika."

Baca juga: MA Amerika Serikat bolehkan Trump menolak pencari suaka Amerika Tengah
Baca juga: Senat AS Setujui Pilihan Obama Sebagai Anggota MA

Sebelumnya, dia memuji-muji dua perempuan sebagai  calon pengganti: para konservatif yang dia angkat ke pengadilan banding federal.

Trump menunjuk Amy Coney Barrett dari Sirkuit ke-7 yang berbasis di Chicago dan Barbara Lagoa dari Sirkuit ke-11 yang berbasis di Atlanta, sebagai calon nominasi untuk penunjukan seumur hidup di pengadilan tertinggi AS. Ini akan menjadi pengangkatan ketiga Trump selama masa jabatan pertama.

Trump menyebut adalah hak konstitusinya untuk menunjuk penerus Ginsburg, dan dia akan melakukannya, sebuah langkah yang serupa dengan apa yang dilakukan oleh sejumlah presiden hingga masa George Washington.

"Kita memiliki banyak waktu. Hingga 20 Januari," ujarnya merujuk pada tanggal pelantikan selanjutnya.

Kematian Ginsburg pada hari Jumat karena kanker, setelah 27 tahun di pengadilan, memberikan Trump, yang mengupayakan pemilihan ulang pada 3 November, kesempatan untuk memperluas mayoritas konservatifnya menjadi 6-3 pada saat perpecahan politik yang luas di Amerika.

Nominasi apa pun akan membutuhkan persetujuan oleh mayoritas sederhana di Senat, di mana Partai Republik Trump memegang mayoritas 53-47.

Tidak semua senator Partai Republik mendukung langkah tersebut: Susan Collins dari Maine pada hari Sabtu mengatakan nominasi harus menunggu.

"Dalam keadilan bagi rakyat Amerika, yang akan memilih kembali Presiden atau memilih yang baru, keputusan pengangkatan seumur hidup di Mahkamah Agung harus dibuat oleh Presiden yang dipilih pada tanggal 3 November," Collins, yang juga tengah menghadapi pemilihan ulang yang sulit, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Partai Demokrat masih bergolak atas penolakan Senat Republik pada tahun 2016 untuk menindak calon Mahkamah Agung Presiden dari Partai Demokrat Barack Obama, Merrick Garland untuk menggantikan Hakim konservatif Antonin Scalia, yang meninggal 10 bulan sebelum pemilihan itu.

Pada saat itu, Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell mengatakan Senat seharusnya tidak bertindak atas calon selama tahun pemilihan, tetapi dia dan senator Partai Republik lainnya telah membalikkan pendirian itu.

Bahkan jika Demokrat memenangkan Gedung Putih dan mayoritas Senat dalam pemilihan November, Trump dan McConnell mungkin dapat mendorong pilihan mereka sebelum presiden dan Kongres baru dilantik pada 20 Januari.

Anggota Kongres senior dari Demokrat mengangkat prospek menambah lebih banyak hakim tahun depan untuk mengimbangi calon Trump jika mereka memenangkan kendali Gedung Putih dan Senat.

"Biar saya perjelas: jika Pemimpin McConnell dan Senat Republik bergerak maju dengan ini, maka tak ada yang tidak bisa dilakukan untuk tahun depan," kata Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer kepada sesama Demokrat pada conference call hari Sabtu, menurut sumber yang mendengarkan panggilan.

McConnell, yang telah mengonfirmasi  calon hakim federal Trump sebagai prioritas, mengatakan majelis akan memberikan suara pada calon Trump mana pun. Demokrat, dengan sedikit suara  untuk memblokir pengesahan calon, berencana untuk mencoba menggalang oposisi publik.

"Fokusnya perlu menunjukkan kepada publik apa yang dipertaruhkan dalam pertarungan ini. Dan apa yang dipertaruhkan adalah akses masyarakat ke perawatan kesehatan yang terjangkau, hak-hak pekerja dan hak-hak perempuan," kata Senator Demokrat Chris Van Hollen dalam wawancara telepon.

Obama pada hari Sabtu meminta  anggota Senat dari Republik untuk menghormati apa yang dia sebut prinsip 2016 "yang diciptakan" McConnell.

"Prinsip dasar hukum dan keadilan sehari-hari adalah bahwa kami menerapkan aturan dengan konsisten, dan tidak berdasarkan pada apa yang nyaman atau menguntungkan saat ini," kata Obama dalam pernyataan yang diunggah secara daring.

AMY CONEY BARRETT DAN BARBARA LAGOA

Bahkan sebelum kematian Ginsburg, Trump telah merilis daftar calon-calon potensial.

Barrett mungkin telah membangkitkan minat paling besar di kalangan konservatif. Seorang Katolik Roma yang taat, dia adalah seorang sarjana hukum di Sekolah Hukum Notre Dame di Indiana sebelum Trump menunjuknya ke Sirkuit ke-7 pada tahun 2017.

Kelompok hak-hak aborsi telah menunjuk pada pandangan agama konservatif Barrett dan mengatakan bahwa sebagai hakim, dia kemungkinan besar akan memilih untuk membatalkan keputusan Mahkamah Agung Roe v. Wade tahun 1973 yang melegalkan aborsi secara nasional.

Lagoa telah menjabat di Pengadilan Banding Sirkuit AS ke-11 selama kurang dari setahun setelah Trump menunjuknya dan Senat mengonfirmasi dia dengan hasil pemungutan suara 80-15.

Sebelum itu, dia menghabiskan kurang dari satu tahun di posisi sebelumnya sebagai orang Latin pertama di Mahkamah Agung negara bagian Florida, setelah lebih dari satu dekade sebagai hakim di pengadilan banding menengah.

Selama kampanye 2016, Trump berjanji untuk menunjuk hakim yang akan membatalkan Roe v. Wade, yang juga merupakan tujuan lama para aktivis konservatif. Bahkan dengan mayoritas konservatif saat ini, pengadilan memberikan suara 5-4 pada bulan Juli untuk membatalkan undang-undang aborsi Louisiana yang ketat.

Cristine Crispell, yang bekerja di pendidikan khusus di Reedsville, Georgia, berkendara lima jam untuk menghadiri rapat umum bersama dua putrinya yang masih remaja. Dia mengatakan Trump "benar-benar" memiliki hak untuk mencalonkan hakim baru, bahkan saat menjelang pemilihan.

"Saya ingin melihat Roe v. Wade dibatalkan. Tentu saja," katanya. "Kesucian hidup adalah hal yang sangat besar."

Trump telah menunjuk dua hakim: Neil Gorsuch pada 2017 dan Brett Kavanaugh pada 2018. Kavanaugh secara sempit dikonfirmasi setelah proses konfirmasi yang panas di mana dia dengan marah membantah tuduhan oleh seorang profesor Universitas California, Christine Blasey Ford, bahwa dia telah melakukan pelecehan seksual terhadapnya pada tahun 1982 ketika keduanya adalah siswa sekolah menengah di Maryland.

KOMPETISI SENAT DALAM FOKUS

Ketua Komite Kehakiman Dewan Perwakilan Rakyat AS Jerrold Nadler pada hari Sabtu mengatakan bahwa mempercepat keputusan pengadilan jika Demokrat menang pada November akan menjadi "tidak demokratis."

Dia berkata di Twitter: "Kongres harus bertindak, dan memperluas pengadilan akan menjadi tempat yang tepat untuk memulai."

Dengan Demokrat berjuang keras untuk memenangkan kendali atas Senat yang terbagi dengan sempit, suara konfirmasi juga dapat menambah tekanan kepada senator Republik petahana dalam persaingan pemilihan, termasuk Collins dan Martha McSally dari Arizona.

Senator Lisa Murkowski dari Alaska, seorang Republikan yang tidak siap untuk pemilihan ulang siklus ini, mengatakan kepada media lokal pada hari Jumat, sebelum kematian Ginsburg, bahwa dia tidak akan memilih calon Mahkamah Agung pada waktu yang begitu dekat dengan pemilihan.

Sumber: Reuters

Baca juga: Hakim Agung AS wafat, ratusan orang beri penghormatan terakhir
Baca juga: Hakim wanita muslim pertama AS ditemukan meninggal

Pewarta : Aria Cindyara
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020