Nelayan tradisional perlu diversifikasi usaha kelautan dan perikanan

Nelayan tradisional perlu diversifikasi usaha kelautan dan perikanan

Ilustrasi - Nelayan sedang menjala ikan. ANTARA/HO-Dokumentasi KKP

Jakarta (ANTARA) - Kalangan nelayan tradisional di berbagai daerah dinilai perlu untuk lebih diperkenalkan kepada diversifikasi usaha dalam rangka meningkatkan kinerja sektor kelautan dan perikanan nasional.

"Perlu diperluas pengembangan dan diversifikasi usaha nelayan yang usahakan dari program pemerintah," kata Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin dalam siaran pers di Jakarta, Senin.

Menurut dia, sejumlah aspek seperti peralatan, pendampingan manajemen hingga bantuan modal perlu diseriusi dengan ketat, disiplin dan tanpa ada kebocoran.

Hal tersebut, lanjutnya, akan menjadi kunci untuk mewujudkan keberhasilan pembangunan perikanan tangkap dan budidaya.

"Membina Nelayan ini asal ada kemauan, kita akan mampu menjadi produsen pangan yang berasal dari ikan untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri bahkan luar negeri," kata Akmal.

Ia berpendapat bahwa Revolusi Biru menjadi harapan ketahanan pangan sebagai alternatif utama dari upaya perwujudan swasembada pangan dari pertanian.

Untuk itu, ujar dia, pihaknya mendorong Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) agar melakukan pembinaan nelayan yang semakin ditingkatkan baik secara jumlah maupun kualitas.

Sebelumnya, KKP menyatakan telah mendorong program kegiatan pemberdayaan nelayan dalam rangka mengatasi dampak pandemi COVID-19 yang berpengaruh terhadap kondisi kesejahteraan nelayan.

"Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan motivasi, inovasi, keterampilan, kompetensi dan manajemen usaha penangkapan ikan," kata Plt. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP Muhammad Zaini.

Selain itu, ujar dia, program pemberdayaan nelayan juga untuk membuka wawasan nelayan tentang alternatif penjualan hasil tangkapan atau produk perikanan bernilai tambah.

"Seperti yang kita ketahui sekarang akibat pandemi global COVID-19, nelayan kecil menjadi komunitas yang paling terdampak," katanya.

Ia mengemukakan bahwa dampak yang paling dirasakan adalah harga ikan yang turun drastis, meskipun hasil tangkapan stabil.

Kondisi itu, ujar Zaini, tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan dan biaya operasional yang tinggi, sehingga dengan adanya acara ini dapat membantu para nelayan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Salah satu contoh program pemberdayaan nelayan telah dilakukan antara lain di Cirebon, 14-15 September 2020.

Dalam acara ini para nelayan dan para wanita nelayan diberikan sosialisasi, bimtek dan gerai fasilitasi, yang diantaranya memperkenalkan inovasi teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas hasil tangkapan nelayan melalui apartemen ikan, atraktor cumi, rumpon portabel, pembuatan pancing senggol dan modifikasi alat tangkap jaring gillnet menjadi jaring rampus.

Selain itu, ada pula bimbingan teknis perbengkelan khususnya mesin penggerak kapal dan mesin pendukung alat penangkapan, dukungan akses permodalan dan pendanaan dalam meningkatkan kapasitas usaha nelayan.

Baca juga: KKP dorong pemberdayaan nelayan guna atasi dampak pandemi COVID-19
Baca juga: KKP gencarkan sosialisasi gerai asuransi nelayan mandiri
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020