Honduras berencana pindahkan kedutaan untuk Israel ke Yerusalem

Honduras berencana pindahkan kedutaan untuk Israel ke Yerusalem

Bendera Israel berkibar dengan latar Dome of the Rock atau Masjid Kubah Batu bagi umat Muslim dan Bait suci untuk umat Yahudi di Kota Tua Yerusalem, Jumat (24/1/2020). Gambar diambil 24 Januari 2020. (REUTERS/AMMAR AWAD)

Yerusalem/Tegucigalpa (ANTARA) - Honduras berencana untuk memindahkan kedutaan besar untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem pada akhir tahun 2020, demikian kata Presiden Honduras Juan Orlando Hernandez dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Minggu (20/9).

"Untuk memperkuat aliansi strategis, kami telah berbicara untuk mengatur pembukaan kedutaan besar di Tegucigalpa dan Yerusalem, berturut-turut. Kami harap dapat mengambil langkah bersejarah ini sebelum akhir tahun, selagi pandemi memungkinkan (hal itu terjadi)," kata Hernandez dalam cuitan di Twitter.

Negara di Amerika Tengah itu telah memberikan sinyalemen sebelumnya soal kemungkinan memindahkan kedutaan besar ke Yerusalem.

Netanyahu sendiri menyebut maksudnya adalah untuk membuka dan meresmikan kedutaan besar kedua negara sebelum 2020 berakhir. Israel tidak mempunyai kedutaan besar di Honduras, namun telah membuka kantor diplomatik di sana pada bulan lalu.

Baca juga: Hongaria jadi negara EU satu-satunya dalam peresmian UAE - Israel
Baca juga: Yordania: Tak ada perdamaian jika Israel terus bertindak sepihak


Saat ini hanya dua negara, yakni Amerika Serikat (AS) dan Guatemala, yang memindahkan kedutaan besar mereka ke Yerusalem.

Sementara pernyataan dari Honduras muncul menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump bersama Netanyahu pada bulan ini yang menyebut bahwa Kosovo dan Serbia juga akan membuka kedutaan besar mereka di Yerusalem.

Pemindahan kantor perwakilan negara ke Yerusalem menjadi kontroversi, mengingat status wilayah itu yang masih merupakan persengketaan paling signifikan dalam konflik Palestina dan Israel.

Palestina menginginkan Yerusalem Timur, yang dicaplok oleh Israel dalam Perang Timur Tengah tahun 1967, sebagai ibu kota negara masa depan mereka. Sementara Israel mengakui semua bagian kota itu sebagai ibu kota negaranya.

Selasa (15/9) pekan lalu, Uni Emirat Arab (UAE) dan Bahrain menandatangani kesepakatan di Washington, AS, untuk menjalin relasi formal dengan Israel.

Trump menjadi penyelenggara upacara penandatanganan tersebut di Gedung Putih, menandai satu bulan setelah UAE menyetujui normalisasi hubungan dengan Israel tanpa jaminan resolusi untuk konflik Israel-Palestina--yang kemudian diikuti oleh Bahrain.

Sumber: Reuters

Baca juga: Keputusan UAE, Bahrain tak ubah posisi Indonesia tentang Palestina
Baca juga: Gedung Putih: Lima negara pertimbangkan kesepakatan dengan Israel
Pewarta : Suwanti
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020