Rokhmin Dahuri: Ekonomi kelautan berkontribusi besar bagi pertumbuhan

Rokhmin Dahuri: Ekonomi kelautan berkontribusi besar bagi pertumbuhan

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB dan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri. ANTARA/HO-KKP

Jakarta (ANTARA) - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri mengatakan ekonomi kelautan bisa memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional jika diserahkan kepada ahlinya.

"Secara potensi, sektor ekonomi kelautan bisa menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Sekali lagi, kalau diserahkan pada ahlinya, bukan yang hanya obral janji," kata Rokhmin dalam orasi ilmiah peringatan Hari Maritim Nasional yang ditayangkan secara daring di Jakarta, Rabu.

Ia mencontohkan dengan membuka usaha tambak udang vaname seluas 100 ribu hektare per tahun saja dapat menyumbangkan 2 persen pertumbuhan ekonomi per tahun.

"Jadi kalau Pak Jokowi enggak ingin repot, sebetulnya waktu lima tahun lalu (pertumbuhan ekonomi) 5 persen, dengan membuka tambak udang saja untuk 7 persen (pertumbuhan ekonomi) dengan sangat mudah digapai. Bukan untuk tenggelam dan moratorium dulu," katanya.

Rokhmin menjelaskan sejumlah alasan mengapa ekonomi kelautan atau kemaritiman bisa jadi penolong bangsa untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.

Indonesia disebutnya memiliki potensi ekonomi kelautan yang besar lantaran 75 persen wilayahnya berupa laut. Potensi ekonomi tersebut senilai 1,4 triliun dolar AS per tahun atau lima kali APBN 2020 dan dapat menciptakan lapangan kerja bagi 45 juta penduduk.

Rokhmin mengatakan sebagian besar pembangunan dan bisnis ekonomi kelautan berlangsung di pesisir, wilayah terpencil dan luar Jawa. Hal itu akan dapat mengurangi disparitas pembangunan antarwilayah yang jadi penghambat kemajuan Indonesia.

Indonesia, lanjut dia, juga memiliki potensi produksi perikanan lestasi sebesar 115,63 juta ton dan baru dimanfaatkan sekitar 20 persennya saja.

"Sebelum ada Kementerian Kelautan dan Perikanan, kita hanya ranking enam dunia produsen perikanan terbesar dunia dan sejak 2009 kita jadi produsen terbesar kedua di dunia, hanya kalah dari China," katanya.

Rokhmin menuturkan perikanan budidaya yang potensinya paling besar di Indonesia, tidak hanya menghasilkan sumber protein hewani saja tetapi juga menghasilkan bahan mentah untuk industri farmasi hingga kosmetik.

"Malu sekali kita penghasil teripang terbesar tapi gamat kita impor dari Malaysia. Artinya memang hilirisasi atau pengolahan kita lemah. Kita demen atau senang jual barang mentah," ujarnya.

Ia juga menjelaskan sektor-sektor ekonomi kelautan bisa memberi dampak ganda yang sangat besar. Di sisi lain, pengembangan ekonomi kelautan juga mampu mendorong pemerataan ekonomi guna mengatasi ketimpangan antara si miskin dan si kaya.

"Pada umumnya orang Indonesia itu bisa melakukan usaha ekonomi kelautan, terutama perikanan tangkap, budidaya, dan pengolahan. Jadi artinya rakyat kecil kalau kita latih dengan bisnis kelautan itu bisa," imbuhnya.

Rokhmin mengatakan dalam rantai pasok global, Indonesia terletak di lokasi strategis di mana 45 persen total perdagangan barang dunia dengan nilai rata-rata 15 triliun dolar AS per tahun dikapalkan melalui laut Indonesia.

"Tapi kita jadi pembeli dan konsumen, bukan produsen atau penjual dari rantai global itu. Ini harus dikonversi dari kemaritiman dan yang terkait. Bukan hanya kumpulkan sampah plastik tapi ekonominya tidak dijalankan," katanya.

Ia meyakini, jika sektor ekonomi kelautan didayagunakan dan dikelola dengan basis inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta manajemen yang benar dan berakhlak mulia, sektor kelautan akan jadi keunggulan komparatif Indonesia.

"Ekonomi kelautan akan jadi keunggulan kompetitif yang mengantarkan Indonesia menjadi poros maritim dunia pada 2045," tutupnya.

Baca juga: KKP komitmen untuk transisi menuju ekonomi kelautan berkelanjutan
Baca juga: Ketika pelatihan daring perikanan atasi dampak ekonomi akibat pandemi
Baca juga: Kadin usul pemulihan ekonomi melalui sektor kelautan dan perikanan
Pewarta : Ade irma Junida
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020