Bajakah Tampala-Propolis pembaruan dalam pengobatan kanker payudara

Bajakah Tampala-Propolis pembaruan dalam pengobatan kanker payudara

Mahasiswa peneliti melakukan simulasi docking senyawa bajakah tampala dan propolis untuk pembaruan pengobatan kanker payudara. ANTARA/HO/UNIVERSITAS BRAWIJAYA/End

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Tiga mahasiswa lintas fakultas Universitas Brawijaya (UB) menawarkan pembaruan dalam pengobatan kanker payudara dengan mengombinasikan Bajakah Tampala dengan Propolis.

"Simulasi docking (molekuler) yang kami lakukan memiliki kombinasi senyawa pada Bajakah Tampala dan Propolis. Sebelumnya, kedua tanaman ini sudah dikenal khasiatnya sebagai antikanker," kata Ellysia Hitdatania mewakili tim penelitian untuk pengobatan kanker payudara tersebut di Malang, Jawa Timur, Sabtu.

Mereka berharap kombinasi keduanya (bajakah tampala-propolis) melalui simulasi docking ini mampu meningkatkan nilai antikankernya.

Dewasa ini, kata Ellysia, penyakit kanker masih menjadi salah satu permasalahan dunia dalam bidang kesehatan, bahkan salah satu tujuan keberlanjutan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) butir ke-3, ditekankan bahwa harus mengurangi sepertiga kematian akibat penyakit tidak menular, seperti diabetes dan kanker.

Sejak tahun 2008, kasus kanker payudara telah meningkat lebih dari 20 persen, sedangkan angka kematian akibat kanker payudara meningkat sebesar 14 persen.
Baca juga: Kalteng izinkan masyarakat luar datang manfaatkan akar bajakah

Kanker payudara adalah kanker dengan persentase kasus baru tertinggi (43,3 persen) dan persentase kematian tertinggi (12,9 persen) pada perempuan di dunia. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi kanker payudara di Indonesia mencapai 0,5 per 1000 perempuan.

Berawal dari permasalahan tersebut, tiga mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Fakultas Peternakan (Fapet) UB menawarkan suatu pembaruan dalam pengobatan kanker, yaitu kombinasi Bajakah Tampala dan Propolis.

Ketiga mahasiswa itu adalah Ellysia Hitdatania (FMIPA), serta Lilin Putri Jasmine dan Fadilah Nurziyadaturrohmah dari Fapet. Mereka melakukan penelitian di bawah bimbingan Dr Arie Srihardyastutie S.Si, M.Kes.

Dari penelitian tersebut, mereka berhasil mendapatkan pendanaan dalam ajang Program Kreativitas Masyarakat (PKM) tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementrian Pendidikan Kebudayaan.

Tanaman Bajakah Tampala (Spatholobus littoralis Hassk), kata Ellysia, secara turun-temurun sudah menjadi kepercayaan nenek moyang suku Dayak sebagai penyembuh berbagai macam penyakit.
Baca juga: Siswa peneliti Bajakah harap temuannya jadi fitofarmaka

"Dari literatur yang kami dapat, Bajakah Tampala dapat dimanfaatkan di semua bagiannya yang mengandung antioksidan seperti flavonoid, fenolik, dan saponin," ucapnya.

Sementara itu anggota tim lainnya, Lilin Putri Jasmine, menurut Saputera 2018 Flavonoid, fenolik dan saponin dapat menghambat dan mengobati kanker payudara. Selain itu, propolis sangat terkenal di kalangan masyarakat akan khasiatnya.

Sedangkan menurut Ucar dan Orhan 2019, propolis juga dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi sel kanker payudara.

Setelah studi pustaka dari Bajakah Tampala dan Propolis tersebut didapatkan, ujar Lilin, akan dilanjutkan pada simulasi docking menggunakan tiga protein target agar diketahui binding affinity (kemampuan obat untuk berikatan dengan reseptor) paling optimal pada masing-masing senyawa.

Sehingga, tidak hanya berupa tulisan, namun adanya konfirmasi secara docking dan mampu menjadi obat yang dapat membantu pemerintah dalam bidang kesehatan terutama dalam pengobatan kanker.

"Dari kombinasi kedua senyawa tersebut, didapatkan bahwa Bajakah Tampala dan Propolis dapat menghambat dan invasi terhadap sel kanker payudara," pungkasnya.
Baca juga: Pemprov Kalteng--B2P2TOOT Tawang Mangu Solo bahas kayu bajakah
 
Pewarta : Endang Sukarelawati
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2020