Kediri gelar kontes ikan cupang kelas internasional

Kediri gelar kontes ikan cupang kelas internasional

Kontes ikan cupang "Kediri Betta Contest 2020" di conventional hall area Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Acara ini diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia, dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. ANTARA Jatim/ Ach

Kediri (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menggelar kontes ikan cupang kelas internasional, "Kediri Betta Contest 2020" dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, dengan protokol kesehatan ketat di masa pandemi COVID-19.

"Kami angkat supaya ikan cupang ada nilai ekonominya. Ikan cupang termasuk ikan hias, sehingga pembudi daya harus mengetahui bagaimana permintaan model ikan," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kediri Nur Hafid di Kediri, Sabtu.

Ketika ditemui di area kontes, conventional hall Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri, Nur Hafid   mengatakan kontes ini sengaja digelar dengan harapan para pembudi daya ikan juga akan lebih memahami kelas ikan yang bagus. Selain itu, juga digelar seminar tentang proses memelihara ikan cupang, agar sesuai dengan standar kontes.

Baca juga: KKP optimalkan peran pusat pengembangan ikan hias Cibinong

Ia mengatakan sentra budi daya ikan cupang terbesar ke sejumlah daerah seperti Kecamatan Ngadiluwih, lalu Desa Paron di Kecamatan Ngasem, Kecamatan Gurah, hingga Kandat.

Produksi ikan cupang di Kabupaten Kediri, lanjut dia, juga cukup besar hingga 102 juta ekor per tahun. Dengan produksi yang melimpah dan kegiatan kontes skala internasional, bisa lebih meningkatkan pasar dan harga jualnya juga menjadi lebih baik.

Sementara itu, panitia acara kontes ikan cupang sekaligus koordinator Komunitas Kediri Beta Club Yusuf Saputro mengatakan kegiatan kontes ini memasuki tahun ketujuh. Acara ini sengaja digelar karena merupakan sarana dari pembudi daya, penghobi ikan cupang untuk menunjukkan eksistensi mereka.

"Ajang ini sekaligus memajukan dan mengembangkan potensi ikan cupang di Kabupaten Kediri. Di kontes ini kami menggunakan acuan 'International Betta Congress', karena metode penjurian untuk ikan, kami merasa lebih pas," kata dia.

Baca juga: Basmi jentik nyamuk hingga halau stress, manfaat pelihara ikan hias

Yusuf mengatakan juri melakukan penilaian keaslian genetik ikan serta original warna. Di ikan juga tidak ada rekayasa agar lebih menarik, cantik, namun di kontes lebih ditonjolkan model ikan asli dari alam.

Dalam kegiatan ini, ada lebih dari 1.000 ekor ikan yang ikut kontes. Ikan ini dibawa dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Tangerang, Bogor, dan sejumlah daerah lainnya. Ada 58 kelas yang dilombakan, termasuk yang reguler dan optional.

Yusuf mengatakan dalam acara ini juga dilakukan protokol kesehatan yang ketat, mengingat saat ini masih terjadi pandemi COVID-19. Terdapat perwakilan dari masing-masing daerah, dan peserta kontes bisa menitipkan ikannya.

Ia mengatakan, untuk hadiah memang tidak besar, namun bagi penghobi ketika menang kontes terlebih lagi tingkat internasional mempunyai gengsi tersendiri.

"Hadiahnya tidak terlalu diburu. Per kelas ada sendiri (hadiah), namun di kegiatan ini yang diburu adalah gengsi. Bagi penghobi ketika bisa juara kontes, ada prestise," ujar dia.

Namun, ia mengatakan dalam kegiatan ini murni penjurian dan kontes serta tidak lelang. Hal ini dilakukan guna meminimalisir kerumunan orang, demi mencegah COVID-19. 
Pewarta : Asmaul Chusna
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020