Pemerintah ajak pelaku usaha tangkap peluang ekonomi melalui digital

Pemerintah ajak pelaku usaha tangkap peluang ekonomi melalui digital

Ilustrasi e-commerce (Shutterstock)

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan mengajak para pelaku usaha untuk menangkap peluang ekonomi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital, salah satunya lokapasar (marketplace).

"Kita dari pemerintah ingin berkolaborasi bareng. Pemerintah enggak mungkin sendiri. Kita perlu kolaborasi dari teman-teman platform. Bagaimana marketplace ini bisa menjaring semua," kata Dirjen Binapenta dan PKK Kementerian Ketenagakerjaan Suhartono dalam diskusi virtual yang diadakan Bukalapak, Rabu.

Suhartono mengatakan kehadiran marketplace dapat menjangkau para pelaku usaha lokal yang tersebar di berbagai daerah bahkan hingga mancanegara.

Kementerian Ketenagakerjaan, menurut Suhartono, mendukung inisiatif pemberdayaan pelaku wirausaha secara mandiri yang dilakukan oleh perusahaan teknologi, perbankan dan keuangan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Kami melatih setiap tahunnya katakanlah 200 ribu orang. Semuanya bisa bikin produk. Tapi bagaimana kita menjual produknya. Pola seperti apa yang digunakan? Inilah yang kita diskusikan," ujar Suhartono.

Suhartono mengatakan bahwa salah satu permasalahan yang dialami para pelaku usaha atau produsen adalah dalam hal menjual produk buatannya. Tidak semua produsen bisa menjadi pedagang.

"Ada satu pendekatan budaya yang perlu dilakukan. Kita perlu belajar dari budaya-budaya yang ada di Indonesia bagaimana caranya menjual produk," imbuhnya.

Sementara itu, CEO Bukalapak Rahmat Kaimuddin mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan inovasi terbaru, salah satunya dengan meluncurkan berbagai produk virtual, yang dapat dimanfaatkan oleh para mitra.

"Di Bukalapak kita banyak deal dengan pedagang dan produsen, kita juga ada beberapa pengalaman di mana produsen UMKM mengalami kesulitan berdagang," kata Rahmat Kaimuddin.

Dia menambahkan, "Produsen dan pedagang adalah dua profesi berbeda. Ada yang berproduksi tapi enggak punya niat jadi merchant. Karena kalau produsen dia harus memikirkan bahan baku produksi. Sementara kalau pedagang itu melakukan pelayanan konsumen dan itu perlu skill tersendiri."

Untuk itu, dia mengatakan para mitra Bukalapak harus pandai memanfaatkan peluang dan tidak boleh kalah dalam situasi yang kurang menguntungkan saat pandemi seperti sekarang ini.

Baca juga: PSBB Jakarta jilid II dinilai tak ubah pola belanja daring masyarakat

Baca juga: Bukalapak bagikan tips pemasaran e-commerce bagi UMKM

Baca juga: BukaSend, layanan baru Bukalapak untuk bantu kirim barang
Pewarta : Yogi Rachman
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2020