PB IDI: Jaga diri agar tidak sakit karena pandemi masih panjang

PB IDI: Jaga diri agar tidak sakit karena pandemi masih panjang

Ilustrasi - IDI Sultra mencatat jumlah anggota yang dinyatakan terkonfirmasi positif COVID-19 sebanyak 52 orang per 25 September 2020. Dari data tersebut 31 dinyatakan sembuh dan 21 masih dalam perawatan. (Sumber: IDI Sultra).

Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Tim Mitigasi Dokter dalam Pandemi COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Ekasakti Octohariyanto mengimbau masyarakat untuk menjaga diri dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh karena pandemi kemungkinan masih akan berlangsung lama.

"Pandemi ini mungkin masih panjang, fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan jumlahnya terbatas. Kita harus berusaha maksimal dalam menjaga diri agar tidak sakit," kata Eka dalam acara bincang-bincang Satuan Tugas Penanganan COVID-19 yang disiarkan akun Youtube BNPB Indonesia dari Gedung Graha BNPB, Jakarta, Jumat.

Eka mengatakan tubuh manusia adalah konstruksi yang paling cerdas. Tanpa ada penambahan suplemen atau vitamin, asalkan melakukan kegiatan berolahraga yang sesuai, makan makanan yang memenuhi kebutuhan gizi, dan berpikir positif; maka sistem kekebalan tubuh akan meningkat.

Karena itu, Eka menyarankan masyarakat untuk melakukan aktivitas olahraga, setidaknya tiga kali sepekan dalam waktu 30 menit agar denyut nadi meningkat.

Baca juga: IDI: Dokter spesialis bedah anak di Medan langka akibat COVID-19

Baca juga: Tujuh wafat, IDI Aceh sebut 400 tenaga kesehatan positif COVID-19


"Kita tahu ada makanan yang disebut junk food, ada juga yang terlalu banyak mengandung gula. Itu akan mengakibatkan kelainan metabolisme tubuh. Jadi asupan gizi dari makanan harus sesuai," tuturnya.

Menurut Eka, seseorang perlu memperhitungkan usia dalam menentukan kebutuhan asupan gizi tubuh. Tubuh manusia sebenarnya tidak memerlukan terlalu banyak karbohidrat. Karena itu, dia menyarankan cukup makan nasi dua atau tiga kali sehari.

"Nasi yang kita makan sebenarnya akan menjadi gula. Karena itu sebenarnya kita tidak memerlukan tambahan gula dari kopi atau teh yang manis karena akan terlalu banyak gula. Kalau memang suka minum kopi atau teh dengan gula, ya, kadar nasinya dikurangi," katanya.

Selain nasi sebagai sumber karbohidrat, asupan gizi dari makanan juga harus mengandung protein. Karena itu, Eka menyarankan jangan hanya makan nasi dengan lauk seadanya. Selain itu, tubuh juga memerlukan asupan lemak.

"Namun, jangan terlalu banyak mengonsumsi gorengan karena mengandung asam lemak tidak jenuh yang sulit diurai," tuturnya.*
#satgascovid19

Baca juga: Kepatuhan protokol kesehatan kunci tekan COVID-19, kata stafsus Menkes

Baca juga: Seorang dokter positif COVID-19 di Malang meninggal dunia
Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020