PB IDI jamin semangat juang dokter tangani pasien COVID-19

PB IDI jamin semangat juang dokter tangani pasien COVID-19

Dokter memeriksa seorang pasien COVID-19 di RSKI Galang . ANTARA/Nikolas Panama/am.

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Slamet Budiarto menjamin para dokter di bawah IDI memiliki semangat juang tinggi untuk menangani pasien COVID-19, tetapi masyarakat diharapkan tetap menjalankan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak.

"Saya kira seseorang memilih menjadi dokter punya naluri kemanusiaan yang tinggi. Meskipun sudah bekerja delapan jam, kalau tidak ada dokter lain, pasti tetap siap melayani pasien," kata Slamet dalam acara bincang-bincang Satuan Tugas Penanganan COVID-19 yang disiarkan akun Youtube BNPB Indonesia dari Gedung Graha BNPB, Jakarta, Senin.

Baca juga: Ada tiga lagi, PB IDI: 130 dokter gugur akibat pandemi COVID-19

Baca juga: PB IDI: Jaga diri agar tidak sakit karena pandemi masih panjang


Meskipun memastikan para dokter akan tetap bersemangat menangani pasien COVID-19, Slamet menegaskan dokter juga akan kelelahan bila harus bekerja melebihi beban kemampuannya.

Karena itu, masyarakat perlu membantu para dokter dan tenaga kesehatan yang lain untuk memutus rantai penularan COVID-19 dengan memakai masker, mencuci tangan menggunakan sabun, dan menjaga jarak.

"Bila yang terinfeksi COVID-19 semakin menurun, yang harus dirawat di rumah sakit semakin sedikit, tentu akan meringankan beban kerja dokter dan tenaga kesehatan," tuturnya.

Slamet mengatakan para dokter di bawah IDI tidak pernah menyampaikan keluhan terkait dengan beban kerja, tetapi lebih banyak mengeluhkan pasokan obat-obatan dan alat kesehatan yang kurang memadai.

"Keluhan yang muncul kebanyakan terkait medis, misalnya obat kosong dan sebagainya. Tidak ada yang mengeluh capek atau lelah. Para dokter bekerja dan mendiagnosis sesuai pedoman Kementerian Kesehatan, sesuai standar," katanya.

Karena itu, Slamet meminta pemerintah untuk memastikan ketercukupan pasokan logistik kesehatan, baik obat-obatan maupun alat kesehatan agar para dokter tidak terkendala dalam menangani pasien COVID-19.

Baca juga: PB IDI: 109 dokter meninggal akibat COVID-19

Baca juga: IDI optimistis Indonesia bisa atasi COVID-19 asalkan gotong royong


"Kami bekerja sesuai prosedur standar operasional, sumpah dokter, dan kode etik kedokteran. Bila kami siap, tetapi tidak ada obat dan alat kesehatan tentu akan mengganggu pelayanan kepada pasien," katanya.
Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020