Desa Palestina memasang kamera untuk awasi serangan Israel

Desa Palestina memasang kamera untuk awasi serangan Israel

Warga Palestina Leen Anabtawi, 24, melihat mural yang menggambarkan pemimpin Fatah yang dipenjara Marwan Barghouti saat dia berjalan melewati bagian dari penghalang Israel, dekat Ramallah di Tepi Barat yang diduduki Israel (24/9/2020). ANTARA FOTO/REUTERS / Mohamad Torokman/aww.

Kisan, Tepi Barat (ANTARA) - Warga Palestina memasang sistem pengawasan video di sebuah desa terpencil di Tepi Barat yang diduduki, untuk mengawasi pemukim Israel terdekat yang mereka tuduh sering melakukan serangan.

Para pendiri proyek berharap kamera televisi sirkuit tertutup di sekitar Kisan, yang terletak di daerah di bawah kendali militer Israel, akan membantu mencegah calon pelaku yang waspada karena tertangkap dalam video.

"Tujuannya adalah untuk membatasi serangan pemukim terhadap desa kami dan anak-anak kami yang tinggal di dekat permukiman," kata Ali Faraj, salah satu pendiri proyek pengawasan tersebut.

Baca juga: Presiden Tunisia: PBB gagal menjamin hak rakyat Palestina
Baca juga: Pejabat: Israel jarah ratusan peninggalan kuno Palestina sejak 1967


Kamera yang dipasang di 10 lokasi akan ditautkan ke aplikasi seluler yang akan memperingatkan penduduk tentang pelanggaran, dan mencatat dugaan insiden yang sering tidak berdokumen, kata Ahmed Essa, pendiri proyek lainnya.

Faraj mengatakan Desa Kisan dan sekitarnya telah menyaksikan lebih dari 450 insiden yang melibatkan pemukim, termasuk serangan terhadap orang-orang dan kerusakan rumah.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mendokumentasikan beberapa insiden serupa, serta tindakan kekerasan Palestina terhadap orang Israel di Tepi Barat, di mana hampir 430.000 pemukim tinggal di antara sekitar 3 juta orang Palestina di tanah yang direbut Israel dalam perang tahun 1967.

Proyek kamera ini didanai melalui inisiatif yang disebut 3al Ard yang berarti "di lapangan" dalam bahasa Arab, dan didirikan oleh pengusaha Palestina-Amerika Bashar Masri.

Masri awalnya mendanai setengah lusin proyek di daerah-daerah terpencil "untuk mendorong orang-orang menangani masalah mereka sendiri berkaitan dengan menghentikan perluasan permukiman yang gila-gilaan".

Mengingat Otoritas Palestina (PA) memiliki otonomi terbatas di beberapa daerah, banyak desa seperti Kisan yang terletak di daerah di bawah kendali militer Israel sepenuhnya, harus berupaya sendiri untuk mengejar ganti rugi setelah dugaan insiden yang melibatkan pemukim Israel.

"(PA) tidak bisa masuk ke sini. Ini adalah tugas warga setempat untuk mengisi kekosongan," kata Faraj.

Sumber: Reuters

Baca juga: Menlu RI bahas situasi memprihatinkan di Palestina
Baca juga: Mesir kembali buka penyeberangan Rafah bagi warga Palestina
Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020