AS berlakukan sanksi baru untuk sektor keuangan Iran

AS berlakukan sanksi baru untuk sektor keuangan Iran

Foto kolase - (kiri) Presiden AS Donald Trump berbicara di luar Gedung Putih, tempat ia dirawat karena penyakit virus korona (COVID-19), di Washington, AS dalam gambar diam yang diambil dari video media sosial yang dirilis pada 8 Oktober 2020. @ realDonaldTrump / via REUTERS/pri. (kanan) Presiden Iran HASSAN ROUHANI membuat pernyataan tentang perkembangan terkini mengenai proses pandemi di National Combat Board Meeting dengan Coronavirus di Teheran, Iran. ANTARA/Iranian Presidency via ZUMA Wire Tehran Iran Poolfoto ZUMAPRESS.com/pri.

Washington (ANTARA) - Amerika Serikat pada Kamis (8/10) memberikan sanksi baru pada sektor keuangan Iran, menargetkan 18 bank dalam upaya untuk lebih menghambat pendapatan Iran.

Washington meningkatkan tekanan pada Teheran beberapa minggu menjelang pemilihan AS.

Langkah tersebut membekukan aset AS dari bank-bank yang masuk daftar hitam dan umumnya melarang orang Amerika untuk berurusan dengan mereka.

Ini berarti bank asing berisiko kehilangan akses ke pasar dan sistem keuangan AS.

Namun, Departemen Keuangan AS mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa larangan tersebut tidak berlaku untuk transaksi penjualan komoditas pertanian, makanan, obat-obatan atau peralatan medis ke Iran karena memahami kebutuhan rakyat Iran akan barang-barang kebutuhan dasar manusia.

Namun, para analis mengatakan sanksi sekunder dapat semakin menghalangi bank-bank Eropa dan asing lainnya untuk bekerja dengan Iran, bahkan untuk transaksi kemanusiaan yang diizinkan.

"Ini seperti pukulan di wajah bagi orang Eropa, yang telah berusaha keras untuk menunjukkan kepada Amerika bahwa upaya tersebut sangat mengancam bantuan kemanusiaan atau perdagangan untuk misi kemanusiaan ke Iran," kata Elizabeth Rosenberg dari lembaga kajian Center for a New American Security.

"Mereka juga ingin ... mempersulit presiden masa depan mana pun untuk dapat melepaskan langkah-langkah ini dan terlibat dalam diplomasi nuklir," tambah Rosenberg, mengacu pada kemungkinan bahwa mantan Wakil Presiden dari Partai Demokrat Joe Biden dapat mengalahkan Presiden dari Partai Republik Donald Trump dalam pemilu AS pada 3 November.

Baca juga: Arab Saudi : kesepakatan nuklir dengan Iran harus jaga non-proliferasi

Ketegangan antara Washington dan Teheran telah meningkat sejak Trump secara sepihak menarik diri pada 2018 dari kesepakatan nuklir Iran 2015 yang dibuat oleh pendahulunya dan mulai memberlakukan kembali sanksi AS yang telah dikurangi berdasarkan perjanjian tersebut.

Sanksi yang telah diberlakukan kembali oleh Trump mulai dari penjualan minyak hingga pengiriman dan aktivitas keuangan. Meskipun sanksi AS itu mengecualikan makanan, obat-obatan, dan persediaan untuk kebutuhan kemanusiaan lainnya, banyak bank asing sudah terhalang untuk berbisnis dengan Iran - termasuk untuk kesepakatan misi kemanusiaan.

Langkah terbaru Washington menargetkan 18 bank utama Iran yang memungkinkan Departemen Keuangan AS menargetkan seluruh sektor ekonomi Iran.

Bank -Bank tersebut antara lain Bank Investasi Amin, Bank Keshavarzi Iran, Bank Maskan, Bank Refah Kargaran, Bank-e Shahr, Bank Eghtesad Novin, Bank Gharzolhasaneh Resalat, Bank Hekmat Iranian, Bank Zamin Iran, Bank Karafarin, Bank Khavarmianeh, Bank Serikat Kredit Mehr Iran, Bank Pasargad, Bank Saman, Bank Sarmayeh, Bank Tosee Taavon, Bank Pariwisata dan Bank Kerjasama Regional Islam.

Baca juga: AS berencana paksakan sanksi PBB terhadap Iran

Baca juga: Menlu Iran: Dunia harus menentang sanksi AS

Baca juga: Guterres tidak dapat ambil tindakan terhadap sanksi PBB atas Iran


 
Pewarta : Azis Kurmala
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020