Menelisik pelaksanaan MICE pada era Normal Baru di Batam

Menelisik pelaksanaan MICE pada era Normal Baru di Batam

Petugas menuangkan kopi ke gelas peserta Meeting, Incentive, Conference dan Exhibition (MICE) di Kota Batam. ANTARA/Naim/am.

Batam (ANTARA) - Setelah hampir enam bulan terseok-seok, industri pertemuan, insentif, konferensi dan pameran (Meeting, Incentive, Conference dan Exhibition/MICE) di Kota Batam Kepulauan Riau bersiap bangkit, dengan penerapan protokol kesehatan COVID-19 yang ketat.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif membuka peluang MICE dibuka kembali. Bersama asosiasi terkait, Kemenparekraf menyusun panduan pelaksanaan kebersihan, kesehatan, keamanan, dan kelestarian lingkungan (Clean, Healthy, Safety dan Environment Sustainability/CHSE), agar kegiatan MICE tidak menjadi klaster baru penularan COVID-10.

CHSE, tidak sekedar 3M, atau mengenakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. CHSE memberikan perlindungan kepada peserta dan penyelenggara untuk memutus mata rantai penularan COVID-19.

Seperti yang diterapkan dalam sosialisasi dan simulasi CHSE di Batam, Kemenparekraf menunjukkan bagaimana pelaksanaan MICE yang baik agar diterapkan.

Peserta pertemuan dibagi dua, tatap muka langsung di hotel, dan melalui daring. Demi memastikan protokol kesehatan jaga jarak diterapkan dengan baik, maka jumlah peserta tatap muka dibatasi.

Pendaftaran peserta dilakukan melalui daring, baik untuk pertemuan tatap muka, dan secara daring. Usai mendaftar, peserta tatap muka diberikan QR Code untuk dapat masuk ruang pertemuan, sekaligus uang digital untuk berbelanja di pameran.

Sedangkan peserta daring diberikan tautan untuk mengikuti pertemuan dan berbelanja pada pameran yang sama.

"Semua peserta tatap muka harus mengikuti tes serologi, dan hasilnya nonreaktif. Mohon maaf, tapi yang belum tes, tidak boleh masuk," katanya.
Koordinator Pengembangan Jejaring dan Kapasitas Wisata MICE Kemenparrekraf, Titik Lestari mencuci tangan saat hendak memasuki destinasi wisata Pandang Tak Jemu. ANTARA/Naim


Pertemuan

Bagian pertama dari MICE adalah pertemuan. Meski peserta telah melalui tes serologi dengan hasil nonreaktif, namun tetap harus melalui pemeriksaan suhu badan lagi.

Dalam ruangan, jumlah peserta dibatasi. Jarak duduk antara peserta juga jauh, sekitar dua meter.

Di atas meja, disiapkan dua amplop. Satu untuk sampah dan satu lagi untuk menyimpan masker bekas pakai. Di sana juga disiapkan satu tas berisi hand sanitizer, tisu basah, tisu kering dan masker pengganti.

Mikrofon yang disiapkan banyak. Setiap pembicara disiapkan satu mikrofon. Dan untuk peserta yang bertanya, mikrofonnya juga selalu diganti, mengantisipasi ada virus yang lengket.

"Mikrofon tidak boleh ganti-gantian," kata Titi saat menemani awak media melihat implementasi HCSE di Batam.

Begitu pula saat waktu makan. Apabila biasanya bebas makan ala swalayan, maka dengan HCSE, maka panitia menyiapkan dalam kontainer makanan, demi menghindari antrean, juga perpindahan tangan sendok nasi dan lauk.

Baca juga: Kemenparekraf prioritaskan industri MICE domestik selama normal baru
Pengunjung menikmati aquarium bawah laut di Kepri Coral. ANTARA/Naim

Insentif

Ada berbagai macam kegiatan insentif yang ditawarkan apabila melaksanakan MICE di Batam. Tentu saja primadonanya adalah wisata belanja dan berbagai aktivitas yang disiapkan resor atau destinasi wisata lainnya.

Panitia MICE bisa leluasa memilih, apakah membawa pesertanya ke resor di pulau utama atau pulau penyangga, berwisata hutan bakau, beraktivitas olahraga air, atau pantai berpasir putih yang cantik.

Mari memulainya dengan wisata resor di pulau penyangga. Ada beberapa pulau yang sudah dikembangkan untuk kebutuhan itu, antara lain Pulau Ranoh, Pulau Labun, dan Pulau Pengalap.

Resor Kepri Coral terletak di Pulau Pengalap. Menuju pelabuhan khusus Kepri Coral, pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan bus. Setelah itu berlayar sekitar 30 menit menggunakan kapal cepat yang sudah disiapkan pengelola.

Baca juga: MICE di Batam mulai ramai di era kenormalan baru
 
Pengunjung Kepri Coral mencuci tangan, dengan tetap menjaga jarak. ANTARA/Naim
Sebelum memasuki kapal, pengunjung diwajibkan melalui tes suhu tubuh, mengenakan masker, dan menjaga jarak. Begitu pula di dalam kapal, antar penumpang pun diberikan jarak.

Kepri Coral menyiapkan berbagai wahana khas wisata bahari, antara lain memberi makan ikan hiu, sepeda darat dan sepeda laut, kano, jelajah hutan bakau, dan snorkling.

Tentu saja, aktifitas ini tetap mengedepankan protokol kesehatan, termasuk saat snorkling.

Petugas memastikan seluruh perlengkapan snorkling dibersihkan setiap selesai digunakan, demi kebersihan.

"Paling bagus mencucinya lagi di air laut. Air laut itu paling bagus," kata salah seorang petugas, Daniel.

Insentif lainnya adalah wisata hutan bakau, satu yang paling populer di Batam adalah Pandang Tak Jemu. Menurut Direktur Eksekutif Batam Tourism and Promotion Board, Edi Sutrisno, Pandang Tak Jemu memiliki semua yang dibutuhkan dalam destinasi.

Baca juga: Industri MICE diminta buat terobosan usaha saat pandemi COVID-19
 
Pengunjung Pandang Tak Jemu hendak beristirahat di gazebo yang disiapkan pengelola, tetap dengan menjaga jarak. ANTARA/Naim
Sebelum memasuki kawasan, pengunjung harus melalui pemeriksaan suhu tubuh dan mencuci tangan dengan air mengalir yang telah disiapkan.

"Pandang Tak Jemu, 3A-nya lengkap. Amenitasnya ada, aksesnya ada, dan atraksinya ada. Setiap pengunjung yang datang disuguhi tari-tarian Melayu," kata Edi.

Betul saja, saat mengunjungi Pandang Tak Jemu, pengunjung langsung disambut kompang, kemudian disuguhi tari persembahan. Di sana juga ada toko cindera mata dan bale-bale tempat beristirahat.

Hutan bakau yang mengelilingi busung pun pencuri perhatian. Rindang, dengan hamparan laut luas membuat pengunjung nyaman berlama-lama di sana.

"Sesuai namanya, Pandang Tak Jemu," kata Koordinator Pengembangan Jejaring dan Kapasitas Wisata MICE Kemenparrekraf, Titik Lestari.

Kepri Coral dan Pandang Tak Jemu, hanya dua dari berbagai destinasi wisata yang bisa dinikmati di Batam. Masih ada juga lainnya seperti wisata golf di sejumlah padang golf kelas internasional dan Sea Forest, tempat berbagai olahraga air.

Satu insentif yang paling banyak ditunggu peserta MICE adalah wisata belanja.

Berbekal status Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, maka harga berbagai barang yang ditawarkan di Batam, relatif lebih murah dibanding tempat lain.

Kemenparekraf mengajak awak media mengunjungi Grand Batam Mall, yang sudah menerapkan CHSE. Sama dengan tempat lain, peserta harus melalui pemeriksaan suhu sebelum memasuki pusat perbelanjaan.

Menurut Marketing Communication Grand Batam Mall, Vivi, pihaknya menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Setiap pelapak diwajibkan melakukan disinfektasi secara rutin dan menyiapkan hand sanitizer.

Pelapak juga membatasi jumlah pengunjung di tiap gerai demi mematuhi aturan jaga jarak.

Baca juga: Kemenparekraf sosialisasi dan simulasi panduan di sektor MICE
Pengunjung melakukan transaksi belanja dalam pameran di Batam. ANTARA/Naim

Pameran

Bagian terakhir dari MICE, adalah pameran. Dalam sosialisasi dan simulasi CHSE di Batam, panitia menyiapkan lima gerai UMKM.

Satu gerai berukuran sekitar 3 x 3 meter persegi. Antargerai diberikan jarak sekitar dua meter.

Penjaga dalam gerai dibatasi hanya dua orang. Pengunjung juga dibatasi dengan pengawasan ketat oleh Satgas COVID-19.

Berbeda dengan pameran di era normal, maka pemilik stand harus melengkapi keterangan barang yang dijual secara daring, menggunakan QR Code yang dipajang di sekitar gerai. Dengan begitu, interaksi dan komunikasi antara penjual dan pembeli diminimalkan.

Pembayarannya pun menggunakan QR Code yang sudah disiapkan panitia sebelumnya.

Peserta diberikan QR Code sebagai uang digital, yang bisa ditambah dengan mudah. Dengan begitu, maka diharapkan dapat meminimalkan perpindahan virus melalui uang tunai.

 #satgascovid19 #jagajarak #pakaimasker
 
Baca juga: Kemenparekraf: Maksimalkan teknologi dalam MICE di era "new normal"
Pewarta : Yuniati Jannatun Naim
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2020