Lurah dan camat se-Jaksel diminta pantau tali air

Lurah dan camat se-Jaksel diminta pantau tali air

Petugas bersama relawan membenahi rumah warga yang rusak akibat tanah longsor di kawasan Ciganjur, Jakarta, Ahad (11/10/2020). Hujan deras sejak Sabtu (10/10) sore mengakibatkan permukiman penduduk di Jalan Damai RT 004 RW 002, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan mengalami banjir sekaligus longsor yang merenggut satu korban meninggal dunia dan dua luka-luka. ANTARA FOTO/ Reno Esnir/foc.

Jakarta (ANTARA) - Wali Kota Jakarta Selatan Marullah Matali meminta camat dan lurah memantau tali-tali air guna mengantisipasi banjir dan longsor.

"Kerja bakti jangan pernah berhenti dan lakukan aksi pantau tali-tali air setiap hari," kata Marullah dalam rapat dengan para camat dan lurah di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Rabu.

Wilayah Jakarta Selatan terdiri atas 10 kecamatan dengan 65 kelurahan. Selain memantau tali-tali air yang ada di tiap wilayah, para camat dan lurah juga diminta untuk memprioritaskan kegiatan pengerukan saluran air untuk mengangkat lumpur, sampah dan sedimentasi.

Pengerukan lumpur, sampah serta sedimentasi tersebut diutamakan di wilayah yang rawan banjir atau tergenang air. "Ini semua untuk mencegah terjadinya genangan saat musim hujan," ujarnya.

Tidak hanya camat dan lurah yang diminta untuk menyiapkan langkah antisipasi banjir dan genangan, setiap Unit Kerja Perangkat Daerah (UKPD) juga diminta untuk melakukan hal yang sama.

Marullah mengingatkan UKPD untuk menerapkan pola induktif atau mengulang dari pengalaman-pengalaman yang sudah dilakukan sebelumnya.

Baca juga: Warga terdampak longsor dan banjir di Ciganjur butuh bantuan pakaian
Baca juga: Pemprov DKI investigasi indikasi pelanggaran tata ruang di Ciganjur
Petugas Suku Dinas Sumber Daya Air membersihkan saluran air, mengangkut sampah, sedimentasi dan lumpur di wilayah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu (14/10/2020). (ANTARA/HO-Kominfotik Jakarta Selatan)
Banjir yang terus berulang hendaknya menjadi pengalaman bagi UKPD dan aparat di wilayah untuk mengambil langkah guna mengantisipasi.

Menurut Marullah, upaya pengendalian banjir tidak lagi secara "tex book" atau deduktif, tapi lebih kepada induktif. "Apa yang menjadi pengalaman yang kita miliki, kita tuangkan untuk menangani masalah," ujarnya.

Setiap UKPD diminta untuk mencari permasalahan yang menimbulkan banjir di wilayah masing-masing lalu mencari jalan keluar untuk menyelesaikannya.

"Cari tahu permasalahan banjir di wilayah, apa penyebabnya, sekecil-kecilnya masalah itu tolong diselesaikan," kata Marullah.

Upaya lainnya yang dilakukan oleh Pemkot Jakarta Selatan dalam mengatasi permasalahan banjir, lewat gerebek lumpur dan pembuatan sumur resapan.

Pemkot Jakarta Selatan juga telah mengingatkan pemilik bangunan untuk melaksanakan kewajibannya membuat sumur resapan.

Bencana longsor dan banjir terjadi di Jalan Damai, Kelurahan Ciganjur, Jakarta Selatan. telah merenggut satu korban jiwa, dua terluka dan 300 rumah teredam banjir pada saat hujan yang turun pada Sabtu (10/10) lalu.
Pewarta : Laily Rahmawaty
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2020