Ekspor CPO jadi sumber PAD Kalbar setelah Pelabuhan Kijing beroperasi

Ekspor CPO jadi sumber PAD Kalbar setelah Pelabuhan Kijing beroperasi

Ilustrasi - Perkebunan kelapa sawit di Kalbar. ANTARA/Dedi

Pontianak (ANTARA) - Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalbar Heronimus Hero mengatakan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) bakal menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) setelah Pelabuhan Internasional Kijing resmi beroperasi.

"Saat ini, Pelabuhan Internasional Kijing di Kabupaten Mempawah tengah melakukan uji coba ekspor dan dengan hal itu menjadi peluang baru terutama sektor perkebunan sawit. Kita sudah ekspor dari Kalbar, sehingga bisa ditarik langsung pajaknya dan itu menjadi PAD," ujarnya di Pontianak, Kalbar, Minggu.

Baca juga: Harga TBS sawit di Kalbar membaik capai Rp1.941,77 per kilogram

Ia menyebutkan dalam satu bulan, total transaksi kontrak CPO dari Kalbar mencapai sekitar Rp1 triliun.

"Angka itu sangat besar dan potensi besar dalam penerimaan daerah melalui PAD. Belum lagi nanti ada PPN, PPh yang menjadi dana perimbangan pusat dan diharapkan proporsional dengan daerah penghasil," jelas dia.

Ia menambahkan dengan sudah bisa ekspor langsung dari Kalbar, efisiensi perusahaan sawit terutama terkait biaya logistik, bisa ditekan.

Hal itu tentu bisa mendorong pendapatan petani atau perusahaan. Jika harga tandan buah segar (TBS) sawit yang diterima petani lebih tinggi, maka petani bisa lebih sejahtera.

Sementara itu, Ketua Gabungan Perusahaan Sawit Indonesia (Gapki) Kalbar Purwati Munawir menambahkan keberadaan pelabuhan ekspor di Kabupaten Mempawah itu  merupakan babak baru bagi sektor sawit di Kalbar.

"Akan ada penghematan biaya angkut CPO jika dibandingkan dengan harus diangkut terlebih dahulu dari Pelabuhan Pontianak menuju ke pelabuhan ekspor baik yang berada di Belawan (Sumut) maupun Tanjung Priok (Jakarta). Dengan diekspor langsung melalui Kalbar, maka menjadi tambahan penerimaan bagi petani sawit," kata dia.

Ia menjelaskan sawit merupakan komoditas ekspor strategis yang berperan dalam memberikan kontribusi bagi pemulihan ekonomi nasional melalui penerimaan devisa maupun PAD bagi daerah.

Untuk itu, beberapa hal yang perlu diantisipasi adalah tetap terpeliharanya iklim yang kondusif melalui regulasi yang mendukung pengembangan industri sawit di daerah serta menangkal upaya provokasi pelemahan industri sawit oleh pihak-pihak tertentu.

"Sejalan dengan itu, kami memberikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Provinsi Kalbar dan kabupaten sehingga investasi sawit dapat berkembang baik," kata dia.

Uji coba ekspor CPO pada akhir Agustus 2020 itu menjadi penanda Pelabuhan Internasional Kijing di Kabupaten Mempawah akan segera beroperasi komersial.

Berdasarkan data KPP Bea Cukai Pontianak, sudah dua perusahaan kelapa sawit yang mengekspor CPO melalui pelabuhan internasional itu.

Pertama, PT Wawasan Kebun Nusantara pada 30 Agustus 2020 tujuan India dengan volume CPO mencapai 5.000 ton.

Kedua, PT Energi Unggul Persada dengan volume ekspor CPO 16.000 ton juga tujuan India pada 27 September 2020.

Negara India termasuk Tiongkok dan negara-negara Asia Timur Iainnya memang menjadi pasar terbesar CPO Kalbar yang lebih dekat bila ditempuh dari Pelabuhan Kijing.

Baca juga: Perkebunan sawit di Kalbar diingatkan ikut cegah karhutla
Baca juga: Potensi pajak ekspor CPO Kalbar Rp500 miliar per tahun
Pewarta : Dedi
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020