Batan dukung pembuatan vaksin dan anti serum untuk COVID-19

Batan dukung pembuatan vaksin dan anti serum untuk COVID-19

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) . ANTARA/id.wikipedia.org/pri. (ANTARA/id.wikipedia.org)

Jakarta (ANTARA) - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mendukung pembuatan vaksin dan anti serum untuk penanganan pandemi COVID-19 di Tanah Air.

"Batan menjadi anggota Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19, dalam hal ini kita lebih banyak mendukung dalam pembuatan vaksin dan anti serum," kata Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan dalam kunjungan virtual Batan ke Redaksi Kantor Berita ANTARA, di Jakarta, Rabu.

Anhar menuturkan iradiasi gamma dimanfaatkan untuk melemahkan virus yang berguna untuk pembuatan vaksin.

Baca juga: Batan: Manfaat teknologi iradiasi untuk pangan hingga alat kesehatan

Pengembangan vaksin Merah Putih sendiri dipimpin oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, sementara yang memimpin pengembangan antiserum adalah Institut Teknologi Bandung.

Sejak kasus COVID-19 pertama kali muncul di Indonesia pada awal Maret 2020, Kementerian Riset dan Teknologi membentuk konsorsium untuk menghasilkan berbagai produk inovasi untuk percepatan penanganan COVID-19 di Tanah Air.

Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 terdiri dari antara lain perguruan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan, dunia usaha, industri atau swasta maupun BUMN.

Selain itu, Batan memperoleh sejumlah pendanaan riset dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Kementerian Riset dan Teknologi untuk mendukung penanganan COVID-19 dari aspek material dan teknologi informasi dan komunikasi untuk manajemen penanganan COVID-19.

Selama pandemi COVID-19, Batan juga membuat sterilisator berbasis sinar ultraviolet yang bisa dioperasikan secara mobile dan statis.

Batan juga terlibat dalam pengembangan ventilator yang bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Saat ini, ventilator tersebut sedang dalam tahap pengujian di Balai Pengaman Fasilitas Kesehatan.

Baca juga: Batan kantongi izin edar kit etambutol deteksi tuberkulosis
Baca juga: Batan kembangkan sistem pemantauan zat radioaktif terintegrasi
Baca juga: Batan: Kalimantan Barat memiliki 17.005 ton uranium
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020