Intelijen: Iran, Rusia ingin campuri pilpres AS 2020

Intelijen: Iran, Rusia ingin campuri pilpres AS 2020

Foto kombinasi memperlihatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan kandidat presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden, berbicara selama debat pertama mereka dalam rangka kampanye presiden 2020, yang berlangsung di kampus Cleveland Clinic-Case Western Reserve University di Cleveland, Ohio, Amerika Serikat, 29/9/2020. ANTARA/REUTERS/Brian Snyder/TM (REUTERS/BRIAN SNYDER)

Washington (ANTARA) - Direktur Badan Intelijen Nasional Amerika Serikat John Ratcliffe, Rabu (21/10), menyebutkan bahwa Rusia dan Iran sama-sama berusaha mengganggu pemilihan presiden 2020.

"Kami telah memastikan bahwa beberapa informasi pendaftaran pemilih telah diperoleh oleh Iran, dan secara terpisah, oleh Rusia," kata Ratcliffe dalam konferensi pers yang diatur dengan tergesa-gesa.

"Kami sudah melihat Iran mengirimkan surat-surat elektronik palsu yang dirancang untuk mengintimidasi para pemilih, menghasut kerusuhan sosial, dan merugikan presiden Trump."

Baca juga: Kontra intelijen AS peringatkan soal Rusia, China, Iran campuri pemilu
Baca juga: Juru kampanye Biden minta Twitter dan Facebook hapus unggahan Trump

Ratcliffe mengacu pada surel yang dikirim pada Rabu dan dirancang agar terlihat seperti berasal dari kelompok Proud Boys yang proTrump, menurut sumber pemerintah.

Badan-badan intelijen AS sebelumnya memperingatkan bahwa Iran mungkin ikut campur untuk membahayakan posisi Trump dan bahwa Rusia berusaha membantu presiden petahana itu dalam pemilihan.

Para pakar di luar badan intelijen mengatakan bahwa jika Ratcliffe benar, Iran akan berusaha membuat Trump terlihat buruk dengan meminta perhatian untuk memberi dukungan, juga dengan melancarkan ancaman melalui kelompok itu --yang terkadang melakukan kekerasan.

Surel tersebut sedang diselidiki, dan satu sumber intelijen mengatakan masih belum jelas siapa yang berada di balik aksi pengiriman surat itu.

Beberapa surel disertai dengan sebuah video, yang kebenarannya ditepis oleh para ahli.

Video tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bagaimana surat suara palsu dapat dikirimkan.

Sebagian besar informasi soal pendaftaran pemilih boleh diketahui publik.

Sumber: Reuters

Baca juga: China klaim tidak tertarik ikut campur dalam pilpres AS
Baca juga: California akan gunakan sistem pemilihan pos untuk pilpres 2020
Pewarta : Tia Mutiasari
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020