Ahli epidemiologi minta pemerintah teruskan uji klinis vaksin COVID-19

Ahli epidemiologi minta pemerintah teruskan uji klinis vaksin COVID-19

Sampel vaksin COVID-19 (ANTARA/Istimewa)

Bogor (ANTARA) - Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia Tri Yunis Miko meminta pemerintah Indonesia terus mengembangkan uji klinis vaksin COVID-19 sesuai "timeline" yang telah dibuat, jangan sampai ada faktor lain yang menghambat.

Tri Yunis Miko mengatakan hal itu melalui pernyataan tertulisnya, Kamis, menanggapi isu terkait vaksin COVID-19 Sinovac yang menjadi komoditas politik di Brasil.

Menurut Tri Yunis, hal ini ada kaitannya dengan pernyataan Presiden Brasil Jair Bolsonaro yang menolak vaksin tersebut.

Sikap Bolsonaro dinilai terkait dengan rivalitas politiknya dengan Gubernur Sao Paolo, Joao Doria. Sao Paolo sendiri adalah wilayah yang ikut bekerja sama dengan Sinovac dalam mengembangkan vaksin lokal di Brasil.

"Indikator vaksin itu dapat dilihat dari tingkat keamanan dan efektivitasnya. Jadi, di luar faktor itu jangan sampai menghentikan proses. Pemerintah sepatutnya terus menjalan uji klinis vaksin," katanya.

Tri Yunis menegaskan, vaksin akan dilihat efikasinya atau kemampuannya melindungi tubuh seseorang.

Menurut dia, pandemi COVID-19 ini nyaris menghentikan seluruh aktivitas manusia di muka bumi. Para produsen dan ilmuan di dunia pun berlomba-lomba menemukan vaksin untuk menghentikan penyebaran virus korona.

"Dalam konteks ini yang harus diperhatikan adalah bagaimana langkah-langkah vaksinasi kepada masyarakat. Ini sudah darurat," tegasnya.

Tri Yunis optimistis, program ini dapat berhasil menghasilkan vaksin lantaran uji coba sebelumnya disebut berlangsung aman. "Harapannya fase tiga ini juga aman,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bio Farma, Honesti Basyir mengatakan, sejauh ini uji klinis ketiga kandidat vaksin tahap tiga yang sedang dilakukan di Bandung tidak ada indikasi yang menghambat. PT Bio Farma optimistis jika proses pembuatan vaksin dapat berjalan lancar sesuai jadwal.

 
Pewarta : Riza Harahap
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020