Pemprov DKI didesak sediakan kantong belanja ramah lingkungan

Pemprov DKI didesak sediakan kantong belanja ramah lingkungan

Warga berbelanja menggunakan kantong belanja ramah lingkungan yang dibagikan petugas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta di Pasar Tebet Barat, Jakarta, Jumat (17/7/2020). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/pras.

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Mohamad Taufik mendesak agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) menyediakan solusi berupa kantong belanja ramah lingkungan, sekaligus terjangkau bagi masyarakat.

Salah satunya, kata politisi senior Partai Gerindra ini dalam sebuah diskusi virtual Kang Singkong di Jakarta, Kamis, adalah kantong belanja berbahan singkong yang merupakan hasil buatan bangsa sendiri.

"Dengan adanya solusi kantong singkong itu yang terbuat dari pati singkong petani Indonesia, yang bisa dipakai ulang karena tidak larut air sehingga dapat dicuci. Ini baik bagi kita dan Jakarta," kata Taufik.

Dengan adanya inovasi lokal seperti ini, kata dia, tentu akan dapat membantu perekonomian rakyat, terlebih dalam situasi yang sulit seperti sekarang ini.

Selain itu, penggunaan kantong belanja berbahan singkong juga sejalan dengan Pergub Nomor 142 tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan.

"Pemerintah harus mengawal inovasi agar benar-benar bisa diimplementasikan secara konsisten di lapangan, jangan lagi ada kebingungan-kebingungan di antara konsumen dan masyarakat," ujar Taufik.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyebut pihaknya mendukung implementasi Pergub DKI Jakarta Nomor 142 tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan (KBRL) pada Pusat Perbelanjaan, Toko Swalayan dan Pasar Rakyat yang dapat mengurangi sampah plastik yang selama ini menjadi momok kebersihan Ibu Kota.

Bahkan, kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, mayoritas konsumen di Ibu Kota bersedia beralih dari kantong plastik ke KBRL.

"Berdasarkan peninjauan dan penelitian kami, lebih dari 80 persen konsumen di DKI Jakarta bersedia untuk beralih ke kantong belanja ramah lingkungan," kata Tulus.

Akan tetapi, Tulus juga mengingatkan pemerintah maupun dunia usaha agar menyediakan KBRL dengan harga terjangkau dan jangan sampai KBRL yang dijual di pasaran cenderung mahal dibanding kantong plastik biasa.

"Kami mendukung adanya inovasi-inovasi dalam negeri yang terjangkau dan efektif ramah lingkungan," ujar Tulus.

Baca juga: Pemprov DKI awasi penerapan aturan kantong ramah lingkungan

Harga wajar
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih menyebutkan, aturan mengenai KBRL yang tertuang dalam regulasi Pergub 142 Tahun 2019, telah mengatur agar sifatnya dapat dipakai ulang (reusable) dan harus dijual dengan harga yang wajar untuk warga DKI Jakarta.

"Ini semua bisa berjalan efektif bila ada dukungan semua elemen masyarakat untuk ikut berkolaborasi dan berkontribusi, sehingga tercipta dunia baru yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Tentu akan diwariskan untuk generasi yang akan datang," kata Andono.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal ASA Center Widodo Sektianto menilai Pergub Nomor 142 tahun 2019 sangat penting sebagai payung hukum untuk merubah pola pakai kantong belanja masyarakat menjadi ramah lingkungan.

Namun, lanjut dia, ada beberapa catatan penting yaitu harus mengedepankan sikap nasionalisme dan percaya diri terhadap bangsa sendiri.

"Solusi-solusi yang diarahkan perlu mengutamakan kepentingan rakyat, daya beli masyarakat, budaya masyarakat Indonesia, dan juga faktor higienis di zaman COVID-19 ini. Definisi ramah lingkungan juga seyogyanya cukup jelas dan bisa diimplementasikan secara konsisten sampai di lapangan," ujarnya.

Adapun, Ketua Gerakan Plastik Akal Sehat Indonesia (PASTI) Naning Adiningsih Adiwoso menyebutkan berdasarkan survei sejak awal Juli sampai pertengahan Oktober 2020, pusat perbelanjaan di Indonesia didominasi memakai kantong kertas atau kantong spunbond/PP non-woven.

Akan tetapi, masyarakat Indonesia termasuk DKI Jakarta, yang paling banyak memakai kantung keras adalah kelas menengah ke bawah.

Sedangkan di pasar-pasar tradisional pada umumnya masih memakai kantong plastik kresek biasa.

"Berkaca dari itu, harus diakui transisi ini tidak akan mudah, tetapi di situlah pentingnya banyak pilihan-pilihan solusi ramah lingkungan, termasuk kantung singkong yang tidak larut air ini, sehingga persaingan ekonomi akan membuat harga-harga kantong ramah lingkungan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat," katanya. 

Baca juga: ICEL: Bioplastik bukan solusi kantong belanja ramah lingkungan
Baca juga: Kantong plastik versus kantong ramah lingkungan
Pewarta : Ricky Prayoga
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2020